28 June 2026

Get In Touch

Temuan BRIN: Bakteri Probiotik Madu Lebah Berpotensi Lawan Kanker

Temuan BRIN: Bakteri Probiotik Madu Lebah Berpotensi Lawan Kanker

SURABAYA ( LENTERA ) - Indonesia kembali mencatat kemajuan dalam riset kesehatan berbasis keanekaragaman hayati. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi bakteri asam laktat probiotik yang berasal dari madu dan bee pollen lebah tanpa sengat atau stingless bee. Mikroorganisme tersebut menunjukkan berbagai aktivitas biologis yang menjanjikan, mulai dari antibakteri, antibiofilm, antioksidan, antikanker, hingga potensi membantu mengendalikan kadar gula darah.

Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan tim Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN bersama peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka memanfaatkan madu dan bee pollen yang berasal dari tujuh spesies lebah tanpa sengat yang ditemukan di Yogyakarta dan Sumbawa. Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Antonie van Leeuwenhoek dan International Microbiology, serta telah memperoleh pendaftaran paten dengan nomor S00202605018.

Peneliti BRIN, Ema Damayanti, menjelaskan bahwa madu lebah tanpa sengat selama ini dikenal kaya akan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Namun, keberadaan mikroorganisme probiotik yang hidup di dalam madu dan bee pollen tersebut masih relatif jarang diteliti, khususnya di Indonesia.

"Kami menemukan bahwa madu lebah tanpa sengat Indonesia menyimpan bakteri asam laktat yang tidak hanya mampu bertahan pada kondisi saluran pencernaan, tetapi juga memiliki aktivitas antibakteri, antibiofilm, antikanker, dan antioksidan yang sangat baik. Ini menunjukkan potensinya sebagai kandidat probiotik untuk pangan fungsional," ujar Ema.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan berhasil mengisolasi sejumlah bakteri asam laktat dari berbagai spesies lebah tanpa sengat, antara lain Heterotrigona itama, Tetragonula laeviceps, Tetragonula clypearis, Tetragonula sarawakensis, Lepidotrigona terminata, Tetragonula drescheri, dan Tetragonula biroi. Dari berbagai isolat yang diperoleh, tujuh isolat terbaik dipilih berdasarkan kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri patogen.

Untuk memahami karakteristik bakteri tersebut secara lebih mendalam, tim peneliti menggunakan teknologi whole genome sequencing (WGS), analisis metabolomik berbasis UHPLC-HRMS, serta berbagai pengujian karakter probiotik. Hasil analisis menunjukkan bahwa isolat unggulan tersebut teridentifikasi sebagai Lacticaseibacillus rhamnosus dan Pediococcus acidilactici, dua jenis bakteri yang selama ini dikenal memiliki manfaat kesehatan dan sering digunakan dalam produk probiotik.

Penelitian menunjukkan bahwa bakteri hasil isolasi mampu menghambat pertumbuhan sejumlah bakteri penyebab penyakit, termasuk Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Pseudomonas aeruginosa. Kemampuan ini menjadi penting karena ketiga bakteri tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai infeksi pada manusia. Tidak hanya itu, bakteri probiotik tersebut juga mampu mencegah pembentukan biofilm, yaitu lapisan pelindung yang dibentuk koloni bakteri untuk bertahan dari antibiotik dan pengobatan. Kemampuan menghambat biofilm dianggap sebagai salah satu aspek penting dalam upaya mengatasi meningkatnya kasus resistensi antimikroba yang menjadi perhatian dunia kesehatan.

Temuan yang paling menarik perhatian adalah aktivitas antikanker yang ditunjukkan oleh bakteri probiotik tersebut. Dalam pengujian laboratorium, bakteri hasil isolasi memperlihatkan kemampuan menghambat lini sel kanker kolon WiDr. Selain itu, bakteri tersebut juga menunjukkan aktivitas antioksidan yang tinggi berdasarkan pengujian DPPH, ABTS, dan FRAP. Aktivitas antioksidan sangat penting karena dapat membantu menangkal radikal bebas yang berpotensi merusak sel tubuh dan memicu berbagai penyakit kronis, termasuk kanker.

Ema juga mengungkapkan bahwa tim peneliti menemukan aktivitas penghambatan enzim α-amilase yang cukup signifikan. Menurutnya, temuan tersebut menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah. "Kami juga menemukan aktivitas penghambatan α-amilase yang cukup signifikan. Potensi ini menarik karena berkaitan dengan pengendalian kadar gula darah, sehingga berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan sehat," ujarnya.

Kemampuan menghambat α-amilase berarti bakteri tersebut berpotensi memperlambat pemecahan karbohidrat menjadi gula sederhana. Mekanisme ini dapat membantu mengendalikan lonjakan gula darah setelah makan, sehingga berpotensi mendukung pengembangan pangan fungsional bagi masyarakat yang berisiko mengalami diabetes atau gangguan metabolisme.

Analisis genom yang dilakukan peneliti juga mengungkap adanya biosynthetic gene clusters (BGCs), yaitu kelompok gen yang berperan menghasilkan berbagai senyawa bioaktif. Gen-gen tersebut diketahui terlibat dalam produksi bakteriosin dan senyawa antimikroba alami yang membantu melawan mikroorganisme penyebab penyakit. Sementara itu, analisis metabolomik berhasil mengidentifikasi berbagai metabolit bioaktif yang diduga berkontribusi terhadap manfaat kesehatan dari bakteri tersebut.

Menurut Ema, penggunaan pendekatan genomik dan metabolomik secara bersamaan menjadi langkah penting untuk memahami mekanisme kerja probiotik lokal Indonesia secara lebih komprehensif. "Indonesia memiliki keanekaragaman hayati lebah tanpa sengat yang sangat besar. Potensi ini tidak hanya penting bagi ketahanan pangan dan biodiversitas, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri pangan fungsional dan kesehatan berbasis riset," jelasnya.

Temuan BRIN ini sejalan dengan berbagai penelitian internasional yang dalam beberapa tahun terakhir semakin menyoroti hubungan antara probiotik, mikrobioma usus, dan kesehatan manusia. Sejumlah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Microbiology menunjukkan bahwa bakteri probiotik tertentu mampu menghasilkan senyawa bioaktif yang membantu mengurangi peradangan kronis dan memperkuat sistem imun.

Sementara itu, penelitian yang dimuat dalam Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology mengungkap bahwa keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam memengaruhi risiko penyakit metabolik, gangguan pencernaan, hingga perkembangan kanker.

Ketertarikan dunia ilmiah terhadap mikroorganisme probiotik juga semakin meningkat seiring berkembangnya penelitian tentang terapi berbasis mikrobioma. Sejumlah laporan media internasional seperti BBC dan Reuters dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa ilmuwan di berbagai negara sedang meneliti bagaimana bakteri baik dalam tubuh dapat mendukung efektivitas pengobatan kanker dan memperbaiki respons sistem imun pasien.

Meski hasil penelitian BRIN menunjukkan potensi yang menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini belum dapat diartikan sebagai ditemukannya obat kanker baru. Aktivitas antikanker yang dilaporkan masih terbatas pada pengujian laboratorium terhadap kultur sel dan belum melalui tahapan uji klinis pada manusia. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan, efektivitas, dosis yang tepat, serta manfaat klinisnya dalam pengobatan.

Ke depan, tim BRIN berencana melanjutkan penelitian menuju tahap formulasi produk dan pengujian aplikasi pada pangan fermentasi maupun suplemen probiotik. Uji keamanan, stabilitas, dan efektivitas dalam skala industri juga akan menjadi fokus penelitian berikutnya.
Jika pengembangan tersebut berhasil, madu dan bee pollen lebah tanpa sengat Indonesia tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai produk pangan alami, tetapi juga berpotensi menjadi sumber inovasi baru di bidang kesehatan.

Temuan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kekayaan biodiversitas Indonesia dapat menjadi fondasi penting dalam pengembangan pangan fungsional, nutraseutikal, dan produk kesehatan bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di tingkat global.(wid,ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.