SURABAYA (Lentera) - Traffic light atau lampu lau lintas di sejumlah ruas jalan Kota Surabaya ikut padam saat terjadi pemadaman listrik bergilir. Kondisi tersebut menuai sorotan dari Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, yang mengkritik koordinasi antara PT PLN dan Dinas Perhubungan (Dishub) setempat menjadi salah satu penyebab tidak optimalnya langkah antisipasi selama pemadaman berlangsung.
Eri menyebut, padamnya sejumlah lampu lalu lintas beberapa hari lalu bahkan sempat menyebabkan kemacetan di sejumlah titik, salah satunya di kawasan perempatan Tuwowo.
"Karena ada laporan WA ke saya itu di beberapa titik, misalnya di perempatan Tuwowo. Kemudian ada di beberapa titik lampunya mati," kata Eri pada Lentera, Senin (22/6/2026).
Sebelumnya, warganet mengunggah keluhan di media sosial yang mempertanyakan fungsi panel surya (solar cell) pada lampu lalu lintas Surabaya ramai diperbincangkan. Dalam unggahan tersebut, warga menyoroti sejumlah traffic light yang tetap padam saat terjadi pemadaman listrik, padahal panel surya dipasang untuk menjadi sumber daya cadangan.
"Serius tanya, solar cell yang terpasang pada Traffic Light tujuannya kan harusnya agar TL tetap nyala dan berfungsi saat listrik padam karena dia sebagai cadangan energi agar tetap berfungsi ketika listrik padam? Atau emang cuma sebagai variasi aja dipasang di situ? Eh gimana sih?," tulis akun @jeremyjh97.
Eri menilai, kurangnya koordinasi antara PLN dengan Dishub, membuat pemerintah daerah tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan langkah antisipasi, seperti menyiagakan genset atau personel pengatur lalu lintas.
"Pertama, tidak ada koordinasi dengan PLN. PLN tidak koordinasi dengan Dinas Perhubungan, sehingga Dinas Perhubungan ini tidak cukup waktu untuk kemudian menyiapkan segala sesuatunya, soal genset segala macam, sehingga sempat ada kemacetan. Kemarin kalau tidak salah ada 12 lampu merah yang mati," ujarnya.
Terkait pertanyaan publik mengenai fungsi panel surya yang terpasang di sejumlah traffic light, Eri mengakui terdapat beberapa kendala teknis yang perlu dibenahi. Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Dinas Perhubungan agar sistem tersebut segera diperiksa dan diperbaiki.
"Memang ada banyak pertanyaan soal solar sel. Itu memang ada beberapa kendala teknis yang butuh perbaikan. Tapi saya kemarin sudah telepon Kepala Dinas Perhubungan untuk segera diperbaiki, sehingga ketika ada hal-hal yang kemarin tidak kita inginkan seperti itu terulang kembali, solar sel bisa berfungsi," ungkapnya.
Tak hanya pada lampu lalu lintas, Komisi C DPRD Surabaya juga meminta evaluasi menyeluruh terhadap panel surya yang digunakan pada penerangan jalan umum (PJU).
"Kita minta untuk dicek, diaudit ulang apakah itu memang masih berfungsi. Kalau memang tidak berfungsi, kendala teknisnya seperti apa. Sudah kita minta nanti segera diperbaiki," tambahnya.
Ia juga menyoroti dampak pemadaman listrik bergilir yang dinilai masih minim sosialisasi kepada masyarakat. Menurutnya, pemadaman tanpa pemberitahuan tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi menghambat pelayanan publik dan meningkatkan risiko kerusakan peralatan elektronik.
"Kalau kita sekarang melihat di masyarakat itu kan pemadaman ini tidak ada pemberitahuan. Di tempat saya, di Kecamatan Sukolilo, kemarin padam sekitar satu jam. Ini kalau tidak ada pemberitahuan, termasuk di kantor-kantor pelayanan publik, tentu berdampak besar," tuturnya.
Untuk itu, Eri meminta PLN menjalin komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah daerah, khususnya Dishub, agar masyarakat dapat melakukan antisipasi dan potensi kemacetan maupun kecelakaan akibat lampu lalu lintas yang padam dapat diminimalkan.
"Yang jelas PLN harus koordinasi dengan Dinas Perhubungan. Karena kalau tidak ada koordinasi kemudian mendadak, bukan hanya soal kemacetan, juga rawan kecelakaan," pungkasnya.
Reporter: Amanah/Editor: Santi





.jpg)
