13 June 2026

Get In Touch

Ditolak Masuk AS, Mimpi Wasit Somalia Pimpin Piala Dunia 2026 Pupus

Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. (foto: NYT)
Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan. (foto: NYT)

JAKARTA (Lentera) - Mimpi wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, untuk mencatat sejarah sebagai orang Somalia pertama yang memimpin pertandingan Piala Dunia harus berakhir tragis. Meski telah mengantongi visa resmi dan membawa surat penugasan dari FIFA, ia justru ditolak masuk ke Amerika Serikat (AS) dan akhirnya dicoret dari turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Artan merupakan satu dari 52 wasit yang dipilih FIFA untuk bertugas di Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Ia juga menjadi satu dari tujuh wasit asal Afrika yang dipercaya memimpin pertandingan dalam ajang bergengsi tersebut.

Namun, setibanya di Bandara Internasional Miami pada Sabtu (7/6/2026), pria berusia 34 tahun itu langsung dihentikan oleh petugas perbatasan Amerika Serikat dan menjalani pemeriksaan intensif selama sekitar 11 jam sebelum akhirnya dipulangkan ke Istanbul, Turki.

Berbicara kepada The New York Times untuk pertama kalinya setelah insiden itu, Artan mengaku sangat terpukul.

"Saya sangat kecewa. Saya hanya seorang wasit yang berusaha meraih mimpi, mimpi terbesar dalam hidup saya, untuk datang ke Piala Dunia," ujarnya melalui sambungan telepon dari Istanbul, mengutip Kompas.com, Kamis (11/6/2026).

Artan mengatakan, dirinya telah mempersiapkan diri selama 4 tahun untuk tampil di Piala Dunia. Ia mengikuti berbagai pelatihan dan kursus FIFA di Qatar serta Uni Emirat Arab demi memenuhi standar internasional sebagai pengadil lapangan.

Dalam perjalanan menuju Amerika Serikat, Artan berangkat dari Nairobi, Kenya, menuju Istanbul sebelum melanjutkan penerbangan ke Miami. Ia sengaja datang 5 hari sebelum pertandingan pertama dimulai agar memiliki waktu beradaptasi.

Saat pemeriksaan berlangsung, Artan mengaku telah menunjukkan seluruh dokumen yang dipersyaratkan, mulai dari visa yang masih berlaku, surat resmi dari FIFA, hingga bukti rekam jejak kariernya selama lebih dari satu dekade sebagai wasit profesional.

"Saya memiliki dokumen yang benar dan semuanya. Saya memiliki visa yang sah," katanya.

Menurutnya, petugas juga menelusuri informasi mengenai dirinya di internet, termasuk prestasinya sebagai Wasit Terbaik Afrika 2025 versi Konfederasi Sepak Bola Afrika. Selain itu, ia dicecar pertanyaan mengenai alasan kedatangannya ke Amerika Serikat hingga situasi politik di Somalia.

Setelah pemeriksaan selama sekitar 11 jam, Artan dipindahkan ke ruang tahanan terpisah sebelum akhirnya dipulangkan menggunakan pesawat menuju Istanbul. "Saya pikir mereka memiliki masalah dengan negara saya," katanya.

Badan Perlindungan Bea Cukai dan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) menyatakan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pemeriksaan tambahan yang dilakukan secara individual.

Dalam pernyataan resminya, CBP menyebut pemeriksaan lanjutan merupakan prosedur rutin ketika petugas perlu memverifikasi informasi atau menentukan kelayakan seseorang untuk memasuki wilayah Amerika Serikat.

"Setelah pemeriksaan, pelancong tersebut, seorang wasit Piala Dunia FIFA, dinyatakan tidak dapat diterima karena kekhawatiran terkait pemeriksaan latar belakang dan ditolak masuk," demikian pernyataan CBP.

Penolakan tersebut kemudian memunculkan dugaan Artan menjadi korban kesamaan identitas. Berdasarkan penelusuran daftar sanksi Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Departemen Keuangan Amerika Serikat, nama Omar Abdulkadir Artan memiliki kemiripan dengan seseorang yang dikaitkan dengan kelompok militan Al Shabab yang telah masuk daftar sanksi pemerintah AS.

Pengacara imigrasi yang berbasis di London, Melissa Chavin, menilai kemiripan nama tersebut sangat mungkin memicu pemeriksaan lebih mendalam terhadap kemungkinan hubungan dengan kelompok tersebut.

Artan mengungkapkan, petugas perbatasan berulang kali menanyakan apakah dirinya pernah bertemu anggota Al Shabab. "Saya menjawab bahwa saya tidak tahu apa pun tentang Al Shabab dan saya hanyalah seorang wasit sepak bola yang menjalankan pekerjaan saya," katanya.

Kasus tersebut memicu kritik dari sejumlah tokoh sepak bola hingga politisi Amerika Serikat, termasuk Hillary Clinton. Namun, Kepala Gugus Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia FIFA 2026, Andrew Giuliani, membela langkah pemerintah.

"Kami juga ingin memastikan bahwa kami tidak akan membiarkan turnamen sepak bola menjadi kesempatan bagi teroris yang berpotensi masuk ke negara ini atau siapa pun yang benar-benar berbicara dengan mereka," ujarnya kepada BBC.

Di sisi lain, FIFA memastikan Artan tidak akan bertugas pada Piala Dunia 2026 dan menegaskan organisasi tersebut tidak memiliki kewenangan dalam proses keimigrasian negara tuan rumah.

"FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk keputusan pemberian visa, dan telah diberi tahu oleh pihak berwenang bahwa status Tuan Artan tidak akan berubah untuk saat ini," tulis FIFA dalam pernyataannya.

Hingga kini belum diketahui alasan mengapa Artan tidak dialihkan untuk memimpin pertandingan di Kanada atau Meksiko, dua negara lain yang juga menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026.

Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.