07 June 2026

Get In Touch

Belasan Ribu Keluarga dari 27 Desa di Bangkalan, Berpotensi Terdampak Kekeringan

Ilustrasi kekeringan pada musim kemarau. (foto:ist/dok.Kompas.com)
Ilustrasi kekeringan pada musim kemarau. (foto:ist/dok.Kompas.com)

BANGKALAN (Lentera) - Puluhan desa dengan 15.769 keluarga di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur berpotensi mengalami kekeringan, pada musim kemarau ini. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyiapkan ratusan ribu liter air bersih, untuk didistribusikan pada masyarakat terdampak. 

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Kabupaten Bangkalan, Arif Rahman Surya Atmaja mengatakan pemetaan wilayah terdampak kekeringan, masih sama dengan tahun sebelumnya. 

Terdapat 27 desa dengan 15.789 keluarga berpotensi mengalami kekeringan, yang tersebar di 10 kecamatan. 

Berikut 10 kecamatan yang berpotensi alami kekeringan: Blega, Arosbaya, Sepulu, Kokop, Tanah Merah, Konang, Galis, Geger, Kwanyar, dan Klampis. 

"Dari jumlah itu, 17 desa berpotensi mengalami kekeringan dengan tingkat kekeringan tinggi. Sedangkan jumlah KK yang terdampak ada 15.789," kata Arif mengutip Kompas.com, Sabtu (6/6/2026). 

Arif menjelaskan, pada musim kemarau, rata-rata sumur di wilayah 27 desa bergantung pada curah hujan. Akibatnya, pada saat kemarau panjang, sumur yang menjadi penadah hujan tidak terisi. 

"Dari puluhan desa itu, ada satu desa yang memang tidak memiliki sumber mata air. Sehingga, saat kemarau sangat terdampak," jelasnya. 

Selain itu, untuk menghadapi musim kemarau di tahun ini, pihaknya menyediakan 300.000 liter air bersih. Nantinya, air bersih itu akan didistribusikan pada warga terdampak kekeringan yang ada di Bangkalan. 

"Untuk distribusinya nanti menggunakan mobil tangki, tersedia dengan kapasitas 5.000 dan 6.000 liter per tangki," ungkapnya. 

Arif juga mengatakan, masyarakat yang membutuhkan air bersih bisa menghubungi kepala desa setempat dan secara berjenjang, akan dilaporkan ke kecamatan lalu ke BPBD. 

Arif juga berharap, masyarakat bisa proaktif melapor, sehingga kekeringan bisa segera diatasi. 

"Sampai saat ini masih belum ada permintaan suplai air bersih dari masyarakat," ujarnya. 

Diperkirakan, musim kemarau tahun ini akan terjadi mulai Mei hingga Agustus, dengan puncak musim kemarau pada Juli-Agustus.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.