21 May 2026

Get In Touch

Jelang Iduladha, DKPP Kota Kediri Cek Kesehatan Hewan Kurban di Penjual

Petugas DKPP Kota Kediri mengecek kondisi hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Rabu (20/5/2026).
Petugas DKPP Kota Kediri mengecek kondisi hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026, Rabu (20/5/2026).

KEDIRI (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Kediri melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) melakukan sidak ke penjual hewan kurban, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan hewan menjelang Hari Raya Iduladha 1447 H. 

Pemeriksaan kesehatan hewan kurban atau ante mortem, dilakukan sejak 18 hingga 26 Mei 2026 di berbagai titik penjualan hewan qurban di Kota Kediri.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala DKPP Kota Kediri, Un Achmad Nurdin mengatakan sasaran pemeriksaan meliputi lapak dadakan di pinggir jalan, Pasar Hewan Muning, hingga pedagang rumahan yang menjual hewan kurban. 

"Pemeriksaan dilakukan oleh dua tim dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP yang terdiri dari 11 personel, terbagi ke dalam dua tim yakni tim I bertugas di Kecamatan Mojoroto, sedangkan tim II di Kecamatan Kota dan Pesantren," ujarnya dalam keterangan, Rabu (20/5/2026).

Dijelaskan, pemeriksaan dilakukan dengan pengamatan dari luar seperti kondisi mata, bulu, hingga memastikan tidak ada cacat tubuh. Tujuannya memastikan ternak yang diperjualbelikan sehat dan bebas penyakit, terutama zoonosis.

"Hewan kurban yang diperjualbelikan, harus dipastikan menghasilkan daging ASUH yakni aman, sehat, utuh, dan halal," jelasnya.

Pada hari ketiga pemeriksaan, Rabu (20/5/2026), DKPP Kota Kediri menemukan satu ekor hewan ternak mengalami penyakit mata dan satu ekor terindikasi scabies di wilayah timur Kecamatan Pesantren. 

“Penyakit mata dan scabies ini menular sehingga harus segera diisolasi dan tidak dicampur, dengan ternak sehat karena penularannya cukup cepat,” ungkapnya.

Sementara itu, Staf Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Kota Kediri, drh Indra Sukma Putra menyampaikan secara umum kondisi hewan kurban yang diperiksa masih dalam batas aman, beberapa temuan seperti gatal yang diduga scabies, iritasi mata, dan ternak yang tampak lesu dinilai masih dapat ditangani. “

"Secara keseluruhan aman dari penyakit zoonosis yang sangat dikhawatirkan, seperti antraks. Untuk PMK dan LSD juga aman, karena vaksinasi rutin terus dilakukan,” terangnya.

DKPP juga mengimbau, para pedagang menjaga kebersihan kandang dan pola makan ternak. Pemberian pakan hijauan muda dihindari, karena berpotensi menyebabkan diare pada ternak. Selain itu, kandang harus rutin dibersihkan dan kebutuhan minum hewan tetap tercukupi.

Menurut Indra, pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan melalui dua tahap, yakni ante mortem sebelum penyembelihan dan post mortem setelah penyembelihan dengan pemeriksaan organ-organ hewan. 

Lapak yang telah diperiksa, juga akan diberi label sebagai tanda telah melalui pemeriksaan kesehatan hewan.

“Harapannya para penjual hewan qurban dapat lebih mengantisipasi adanya penyakit. Apalagi lalu lintas ternak juga sudah diperketat dengan surat keterangan sehat hewan,” imbuhnya.

Salah satu pedagang hewan kurban di Banjarmlati, Juni mengaku hewan ternak yang dijual didatangkan dari Trenggalek. Selama perawatan, ternak yang dijualnya rutin diberi pakan ramban, air minum yang cukup, serta kebersihan kandang terus dijaga. 

Jika terdapat ternak sakit, dirinya segera memanggil dokter hewan terdekat. Menurut penuturannya, tahun ini terjadi peningkatan permintaan hewan meski harga jual justru sedikit menurun dibandingkan tahun lalu. 

“Harga hewan mulai Rp2,7 juta sampai Rp4 juta. Semoga hewan-hewan di sini sehat-sehat semuanya, supaya bisa dibuat kurban dan dagingnya aman dikonsumsi,” pungkasnya.

 

 

Reporter: Ais/Editor: Arief Sukaputra

 

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.