21 May 2026

Get In Touch

Skrining Kanker Serviks di Kota Malang Ungkap 25 Kasus Positif per April 2026

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) -Program skrining kanker serviks yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang di 16 puskesmas mengungkap 25 kasus positif kanker serviks per 22 April 2026.

"Skrining tes Human Papillomavirus Deoxyribonucleic Acid (HPV DNA) dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) sudah kami lakukan di 16 Puskesmas. Yang terskrining 563 Kemudian hasil dari IVA yang positif itu 25 atau 4,4 persen," Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif, dikonfirmasi pada Rabu (20/5/2026).

Selain itu, menurutnya terdapat 14 perempuan atau sekitar 2,5 persen yang tidak dapat menjalani pemeriksaan IVA karena tidak memenuhi persyaratan medis. Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan adalah peserta melakukan hubungan suami istri pada malam sebelum pemeriksaan dilakukan. 

Husnul menambahkan, sebanyak 113 hasil pemeriksaan atau sekitar 20,1 persen pada saat itu masih belum keluar karena masih dalam proses evaluasi laboratorium.

Seiring berjalannya program, jumlah peserta yang telah menjalani skrining terus bertambah. Hingga 19 Mei 2026, total perempuan yang telah menjalani pemeriksaan mencapai 722 orang.

"Untuk hasil terbaru masih menunggu. Target kami dalam satu tahun ada 1.600 perempuan yang menjalani skrining," katanya.

Jumlah peserta yang mendaftar sebenarnya jauh lebih besar. Sebelumnya, saat pelaksanaan pemeriksaan di Puskesmas Kendalkerep, pada 20 April 2026, Husnul menyebut sekitar 1.800 perempuan telah mendaftarkan diri.

Namun, tidak semua peserta dapat langsung diperiksa. Menurut Husnul, hanya perempuan yang memenuhi syarat medis yang bisa menjalani pemeriksaan HPV DNA dan IVA.

Bagi peserta yang dinyatakan positif IVA, Dinkes Kota Malang langsung memberikan penanganan berupa terapi cryo. Tindakan tersebut dilakukan di 3 puskesmas yang telah memiliki fasilitas, yakni Puskesmas Ciptomulyo, Puskesmas Kedungkandang, dan Puskesmas Cisadea.

"Kasus yang kami temukan ini masih grade 1, sehingga bisa ditangani dengan terapi cryo. Kalau sudah grade 2 atau grade 3, maka akan dirujuk ke rumah sakit," terang Husnul.

Ia menjelaskan, pemeriksaan IVA dilakukan dengan mengoleskan asam asetat pada leher rahim. Jika muncul bercak atau bintik berwarna putih, maka hal itu menandakan adanya lesi yang perlu ditangani.

Pada terapi cryo, lesi tersebut dibekukan menggunakan alat dengan cairan bertekanan tinggi untuk menghancurkan jaringan abnormal. Setelah tindakan, pasien akan menjalani kontrol kembali dalam waktu sekitar tiga minggu.

Meski terdengar cukup serius, Husnul memastikan proses pemulihan pasca terapi cryo relatif cepat. "Maksimal tiga hari biasanya sudah pulih," tegasnya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.