MALANG (Lentera) - Universitas Brawijaya resmi meluncurkan Aplikasi Sistem Manajemen Risiko (SEMAR) sebagai langkah strategis memperkuat tata kelola organisasi modern.
Aplikasi ini dirancang untuk memastikan seluruh unit kerja mampu mengidentifikasi, menganalisis, hingga memitigasi potensi risiko secara terintegrasi melalui dashboard pemantauan berbasis digital.
"Kami ingin seluruh unit di Universitas Brawijaya sudah mengimplementasikan manajemen risiko dan terpantau dalam dashboard SEMAR," ujar Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., Kamis (30/4/2026).
Dijelaskannya, setiap individu dalam organisasi tidak hanya dituntut memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi), tetapi juga harus mampu mengenali risiko yang mungkin muncul dalam pelaksanaan tugasnya.
Menurutnya, risiko merupakan sesuatu yang belum terjadi, namun harus diantisipasi sejak dini. "Semakin besar dan kompleks organisasi, maka manajemen risiko menjadi tulang punggung dalam sistem manajemen itu sendiri," imbuhnya.
Widodo menambahkan, seluruh aktivitas di lingkungan UB tidak lepas dari potensi risiko. Oleh karena itu, mitigasi risiko harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap kebijakan maupun pelaksanaan program kerja.
Peluncuran SEMAR ini juga merupakan bagian dari upaya reformasi birokrasi di lingkungan UB. Sistem tersebut diharapkan mampu menjadi instrumen utama dalam memetakan sekaligus mengendalikan berbagai risiko yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan institusi.
Sementara itu, Ketua Satuan Reformasi Birokrasi UB, Ngesti Dwi Prasetyo, menjelaskan SEMAR bekerja dengan mengukur dampak dan kemungkinan risiko terhadap pencapaian target organisasi.
"Ini berkaitan dengan ketidakpastian dalam mencapai tujuan UB, baik yang tertuang dalam visi-misi, rencana strategis (renstra), indikator kinerja utama (IKU), maupun perjanjian kinerja," jelasnya.
Menurut Ngesti, setiap perencanaan di UB wajib dilekatkan dengan identifikasi risiko. Proses tersebut dimulai dari pemetaan risiko di masing-masing unit kerja, dilanjutkan dengan analisis, hingga pengelompokan berdasarkan kategori dan domain risiko.
"Pak Rektor bisa melihat mana risiko yang sering terjadi, hampir terjadi, atau tidak terjadi sama sekali. Ini menjadi early warning system bagi pimpinan," terangnya.
Ia mencontohkan, risiko yang berkaitan dengan reputasi institusi maupun pengadaan barang dan jasa dapat terdeteksi sejak dini melalui sistem tersebut. Indikator warna dalam dashboard juga memudahkan identifikasi, di mana warna merah menunjukkan adanya persoalan yang perlu segera ditangani.
Lebih lanjut, hasil pemetaan risiko ini akan menjadi dasar pengambilan kebijakan di tingkat rektorat. Strategi penanganan risiko pun dapat disesuaikan, mulai dari menghindari, meminimalkan, hingga mengelola risiko sebagai peluang untuk mendorong inovasi dan kemajuan institusi.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi





.jpg)
