25 April 2026

Get In Touch

AS Tawarkan 10 Juta Dolar AS untuk Informasi Hashim Finyan Rahim al-Saraji

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan imbalan hingga 10 juta dolar AS untuk informasi mengenai pemimpin Kataeb Sayyid Al-Shuhada, Hashim Finyan Rahim Al-Saraji (kiri), yang juga dikenal sebagai Abu Alaa Al-Walai. (foto: ist/AFP)
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menawarkan imbalan hingga 10 juta dolar AS untuk informasi mengenai pemimpin Kataeb Sayyid Al-Shuhada, Hashim Finyan Rahim Al-Saraji (kiri), yang juga dikenal sebagai Abu Alaa Al-Walai. (foto: ist/AFP)

WASHINGTON (Lentera) - Pemerintah Amerika Serikat (AS) meningkatkan tekanan terhadap kelompok milisi pro-Iran di Irak dengan menawarkan imbalan hingga 10 juta dolar AS atau sekitar Rp172 miliar bagi siapa pun yang memiliki informasi tentang keberadaan Hashim Finyan Rahim al-Saraji.

Melansir Antara, program Rewards for Justice (RFJ) dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan hadiah tersebut pada Jumat (24/4/2026). Informasi itu disampaikan melalui akun resmi mereka di platform media sosial X.

Departemen Luas Negeri AS menyebut Hashim Finyan Rahim al-Saraji sebagai pemimpin kelompok Kata’ib Sayyid al-Shuhada (KSS), yang disebut bersekutu dengan Iran dan diduga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan di Irak dan Suriah.

Dalam keterangannya, AS menuding KSS bertanggung jawab atas kematian warga sipil Irak, serta sejumlah serangan terhadap fasilitas diplomatik, personel, dan pangkalan militer AS di kedua negara tersebut.

Sebagai bagian dari upaya pengumpulan informasi, program RFJ membuka jalur pelaporan melalui jaringan anonim seperti Tor serta aplikasi pesan terenkripsi Signal. Pemerintah AS juga menjanjikan perlindungan, termasuk kemungkinan relokasi bagi informan yang memenuhi syarat.

Langkah ini bukan yang pertama dalam beberapa pekan terakhir. Pada 1 April 2026, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat juga menawarkan imbalan hingga 3 juta dolar AS atau sekitar Rp51 miliar untuk informasi terkait serangan terhadap fasilitas diplomatik AS di Irak.

Ketegangan meningkat setelah pada 9 April 2026, pemerintah AS memanggil Duta Besar Irak untuk Washington menyusul serangan terhadap fasilitas diplomatiknya di Baghdad. Serangan tersebut diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata yang memiliki keterkaitan dengan Iran.

Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.