21 March 2026

Get In Touch

Rasaya, Inovasi Mahasiswa Ubaya Pantau Kondisi Mental Siswa Secara Digital

Chavel Aiko Ratu, mahasiswa Ubaya pencipta program Rasaya.
Chavel Aiko Ratu, mahasiswa Ubaya pencipta program Rasaya.

SURABAYA (Lentera)– Mahasiswa tugas akhir Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Surabaya (FT Ubaya), Chavel Aiko Ratu menciptakan sebuah sistem informasi berbasis web dan aplikasi ponsel pintar, untuk membantu sekolah memantau kesehatan mental siswa. 

Sistem bernama Rasaya ini dirancang agar proses konseling di sekolah bisa dilakukan lebih cepat, sistematis, dan berbasis data.

Chavel menjelaskan, Rasaya merupakan sistem informasi konseling siswa yang dapat diakses oleh admin sekolah, guru, wali kelas, serta siswa. Data yang dimasukkan ke dalam sistem akan diolah untuk menghasilkan kesimpulan dan tren kondisi kesehatan mental siswa yang bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pihak sekolah.

Chavel menuturkan, ide pembuatan Rasaya muncul dari keprihatinannya terhadap kesulitan sekolah dalam mencatat kondisi psikologis siswa secara berkelanjutan. Akibatnya, gangguan mental sering kali tidak terdeteksi sejak dini dan baru ditangani ketika sudah cukup serius.

Untuk memperkuat gagasannya, ia melakukan studi kasus menggunakan data dari salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Berdasarkan wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata banyak siswa yang merasa malu menyampaikan apa yang mereka rasakan secara langsung kepada guru. Akibatnya, guru juga tidak sepenuhnya memahami kondisi psikologis siswanya,” ujarnya, Jumat (20/3/2026).

Data yang telah dikumpulkan kemudian didiskusikan bersama dosen pembimbing untuk menentukan konsep sistem yang akan dikembangkan. Setelah itu, Chavel mulai merancang Rasaya sambil melakukan riset mandiri agar sistem memiliki fitur yang lengkap tetapi tetap mudah digunakan.

Untuk menganalisis data yang masuk, ia menggunakan metode Lexicon-Based Sentiment Analysis, yaitu teknik analisis sentimen yang mengelompokkan emosi siswa menjadi positif, negatif, atau netral berdasarkan kamus kata yang telah diberi nilai sebelumnya. 

"Selanjutnya, sistem mengklasifikasikan data ke dalam beberapa kategori kondisi, seperti stres akademik atau konflik sosial," tuturnya.

Dalam proses pengembangan tersebut, Chavel juga melibatkan psikolog anak dan remaja untuk membantu memvalidasi hasil analisis sistem agar lebih akurat.

Rasaya dilengkapi dengan berbagai fitur, seperti daily mood tracker, refleksi harian, laporan kondisi emosi, fitur lapor teman, hingga tren kesehatan mental per kelas dan angkatan. 

Dengan sistem ini, data tidak hanya berasal dari siswa, tetapi juga dari guru, wali kelas, dan teman sebaya sehingga hasilnya lebih objektif. Hasil analisis yang dihasilkan sistem dapat digunakan oleh wali kelas maupun guru BK sebagai dasar dalam memberikan pendampingan dan konseling kepada siswa. 

"Dengan demikian, pemantauan kesehatan mental siswa dapat dilakukan secara lebih sistematis, efisien, dan berkelanjutan," tambahnya.

Chavel mengaku, tantangan terbesar dalam pengembangan Rasaya berada pada bagian machine learning. Dari total empat bulan pengerjaan, tiga bulan di antaranya ia habiskan untuk merancang algoritma agar dapat bekerja dengan tepat.

“Revisinya sangat banyak dan cukup menantang, terutama di bagian machine learning. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa menyelesaikannya dengan baik,” ungkapnya.

Setelah dipresentasikan dalam sidang tugas akhir, saat ini Chavel masih menyempurnakan sistem tersebut agar dapat digunakan dalam skala yang lebih luas. “Saya berharap Rasaya bisa membantu sekolah, siswa, guru, dan juga orang tua secara tidak langsung. Karena itu, sekarang saya sedang mempersiapkannya agar siap digunakan secara massal,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.