MADIUN (Lentera)– Sehari sebelum terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Wali Kota Madiun Maidi terekam dalam foto selfie bersama Direktur Utama PDAM Kota Madiun, Suyoto, di showroom mobil mewah Prabu Motor Ponorogo.
Foto tersebut diunggah langsung oleh Suyoto melalui akun Facebook Suyoto Hardjo Wiyono pada Minggu (18/1/2026), pukul 15.50 WIB. Dalam unggahan itu, Suyoto menulis caption singkat, “Bismillah, sekedar mejeng.”
Dalam satu dari lima unggahan swafoto tersebut, Maidi tampak berdiri di sisi Suyoto dengan menggunakan topi rimba berwarna abu-abu dan jaket bomber abu-abu dengan merek Guess. Maidi nampak memperhatikan salah satu unit Suzuki Jimny Chiffon Ivory Metallic yang dipajang di dalam showroom.
Dalam foto ungahan lainnya tampak Suyoto berfoto dengan latar deretan mobil mewah, seperti Rubicon, Jeep, Hummer.
Unggahan itu juga menandai sejumlah akun, di antaranya Misdi Idemu Asetmu yang diduga merupakan akun Sekretaris DPRD Kota Madiun Misdi, Muhammad Yusuf Asmadi selaku Camat Taman Kota Madiun, serta akun resmi Prabu Motor Ponorogo.
Hingga berita ini ditulis, Suyoto belum memberikan keterangan resmi mengenai tujuan kunjungan tersebut. Upaya konfirmasi melalui sambungan telepon belum mendapat respons. Hal serupa juga terjadi pada Misdi dan Muhammad Yusuf Asmadi.
Sehari berselang, Senin (19/1/2026), KPK menggelar penyelidikan tertutup di Kota Madiun dan mengamankan 15 orang. Sembilan orang di antaranya dibawa ke Jakarta, termasuk Wali Kota Madiun Maidi.
Pada Selasa (20/1/2026), KPK resmi mengumumkan penahanan Maidi bersama dua tersangka lain, yakni Rochim Ruhdiyanto (pihak swasta) dan Thariq Megah (Kepala Dinas PUPR Kota Madiun).
Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu, didampingi Juru Bicara KPK Budi Prasetyo, menyatakan Maidi ditahan selama 20 hari pertama di Rutan KPK Gedung Merah Putih.
Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan uang tunai Rp550 juta yang diduga terkait praktik pemerasan dana CSR, fee proyek, dan gratifikasi.
KPK memastikan penyidikan masih terus dikembangkan untuk mengungkap aliran dana serta potensi keterlibatan pihak lain. (*)
Reporter : Wiwiet Eko Prasetyo
Editor : Lutfiyu Handi





.jpg)
