30 April 2026

Get In Touch

Pengukuhan Guru Besar Universitas Ciputra, Bahas Masa Depan Pariwisata hingga Risiko AI

Tiga guru besar Universitas Ciputra Surabaya yang baru saja dikukuhkan. (Amanah/Lentera)
Tiga guru besar Universitas Ciputra Surabaya yang baru saja dikukuhkan. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) - Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengukuhkan tiga Guru Besar dari bidang Desain dan Perilaku, Sains Data, serta Business Intelligence yang menyoroti berbagai tantangan strategis Indonesia di masa depan.

Mulai dari lemahnya identitas destinasi wisata hingga risiko penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang belum terkendali menjadi perhatian utama dalam pengukuhan tersebut.

Ketiga guru besar yang dikukuhkan yaitu, Prof. Dr. Astrid, S.T., M.M. (Guru Besar Bidang Ilmu Desain dan Perilaku), Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, S.T., M.Eng.Sc (Guru Besar Bidang Ilmu Sains Data), dan Prof. Dr. Adi Suryaputra P., S.Kom., M.Kom (Guru Besar Bidang Ilmu Business Intelligence).

Rektor Universitas Ciputra Surabaya, Wirawan E.D. Radianto, mengatakan pengukuhan Guru Besar bukan sekadar capaian akademik, melainkan langkah strategis untuk menjawab dinamika zaman.

"Pengukuhan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran universitas agar tetap relevan. Teknologi, data, dan pemahaman manusia harus berjalan beriringan untuk menghasilkan solusi nyata," ujarnya, Kamis (30/4/2026).

Ia menegaskan, para Guru Besar diharapkan tidak hanya menghasilkan riset, tetapi juga mampu mengimplementasikan gagasan serta mencetak generasi pemimpin masa depan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Guru Besar bidang Desain dan Perilaku, Prof. Astrid, menyoroti persoalan mendasar dalam sektor pariwisata nasional, yakni minimnya identitas pada banyak destinasi wisata.

Menurutnya, meskipun Indonesia memiliki lebih dari 16.000 pasar tradisional dan ribuan desa wisata, hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi destinasi dengan karakter kuat.

"Banyak ruang komersial berkembang tanpa identitas yang jelas, sehingga terlihat seragam dan sulit bersaing," jelasnya.

Ia memperkenalkan konsep soul of space, yakni perpaduan antara ruang, aktivitas, dan budaya lokal yang mampu menciptakan pengalaman autentik bagi wisatawan. Dalam tren pariwisata saat ini, pengalaman dinilai lebih penting dibanding sekadar tampilan fisik.

Sementara itu, Guru Besar bidang Sains Data, Prof. Trianggoro Wiradinata, mengungkap adanya ketimpangan dalam adopsi AI di Indonesia. Ia menyebut sekitar 92 persen individu telah menggunakan AI, namun tingkat adopsi di organisasi baru mencapai sekitar 47 persen.

Hal ini menunjukkan masyarakat cepat mencoba teknologi, tetapi belum sepenuhnya siap mengelolanya.

Trianggoro juga mengingatkan risiko cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi, yang berpotensi menurunkan kemampuan analisis.

"AI adalah peluang besar, tetapi harus digunakan secara bijak. Manusia yang mampu memanfaatkan AI akan unggul dibanding yang tidak," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Guru Besar bidang Business Intelligence, Prof. Adi Suryaputra P., menyoroti dampak lebih jauh dari penggunaan AI, yakni potensi pergeseran peran manusia dalam pengambilan keputusan.

Ia menilai bahaya utama bukan pada kesalahan perhitungan, melainkan ketika manusia mulai menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada sistem. "AI bisa menghitung dan memprediksi, tetapi tidak memahami konteks dan tidak memiliki tanggung jawab," ujarnya.

Sebagai solusi, ia mendorong pendekatan Human-Centered Decision Intelligence, yakni memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Dorong Keseimbangan Teknologi dan Nilai Kemanusiaan

Pengukuhan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan Indonesia ke depan bukan sekadar mengejar kemajuan, tetapi memastikan setiap inovasi tetap berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, baik dalam pengembangan pariwisata maupun pemanfaatan kecerdasan buatan.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.