30 April 2026

Get In Touch

Salah Data, Anak Disabilitas Makan Rumput di Bandung Barat Tak Pernah Tersentuh Bansos

Pemkab Bandung Barat meninjau kondisi anak disabilitas, MR (11) di kediamannya. (foto: Dinkes Kabupaten Bandung Barat)
Pemkab Bandung Barat meninjau kondisi anak disabilitas, MR (11) di kediamannya. (foto: Dinkes Kabupaten Bandung Barat)

BANDUNG BARAT (Lentera) - Akibat kesalahan pendataan sosial kesejahteraan, seorang anak disabilitas di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang viral karena memakan rumput, ternyata tak pernah tersentuh bantuan sosial (bansos).

Kepala Dinsos KBB, Idad Saadudin, mengakui adanya kekeliruan dalam pendataan yang menyebabkan seorang anak berinisial MR (11) yang hidup dengan ayahnya, tidak masuk dalam kategori prioritas penerima bansos.

"Status desilnya tidak tepat. Kemarin masih di desil 6, sehingga tidak masuk prioritas penerima bantuan sosial," ujar Idad, melansir Kompas, Kamis (30/4/2026).

Dalam sistem Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), desil 6 tergolong kelompok masyarakat yang relatif tidak menjadi prioritas utama bantuan.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Dinsos kini tengah melakukan pembaruan data kependudukan MR. Salah satunya dengan memisahkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dari Kartu Keluarga (KK) ibunya dan memindahkannya ke KK ayahnya.

"NIK-nya akan kami ubah sesuai peruntukannya. Kemarin masih ikut ibunya, sekarang harus dipisah dan masuk ke KK ayah untuk penyesuaian desil," jelas Idad.

Setelah proses perbaikan data rampung, Dinsos berencana mengusulkan agar status kesejahteraan Kiki diturunkan ke desil 1 hingga 5, yang merupakan kelompok prioritas penerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Tak hanya fokus pada bantuan sosial, Dinsos juga menyiapkan langkah lanjutan berupa intervensi rehabilitasi bagi Kiki. Ia direncanakan akan dirujuk ke Balai Rehabilitasi Sosial Wiyataguna untuk mendapatkan pembinaan sesuai kebutuhan.

"Kami rekomendasikan ke Wiyataguna untuk rehabilitasi, terutama terkait tuna wicara dan keterbatasan intelektual," kata Idad.

Sementara itu, ayah Kiki, Asep Setiawan (49), mengungkapkan kebiasaan anaknya memakan rumput bukan semata-mata karena kondisi ekonomi, tetapi juga dipengaruhi keterbatasan mental yang dialami sang anak.

"Memang ada dua faktor. Pertama karena keterbatasan mentalnya, kedua karena faktor ekonomi," ujar Asep.

Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.