22 April 2026

Get In Touch

Kuota Seragam Gratis 2026 di Kota Malang Anjlok Imbas Pemangkasan TKD

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana. (Santi/Lentera)
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Kuota penerima program seragam gratis tahun 2026 di Kota Malang anjlok. Kondisi ini merupakan imbas dari pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD) dari pemerintah pusat, yang berdampak langsung pada kemampuan anggaran Pemerintah Kota Malang.

"Yang jelas di tahun ini, yang sudah ada di anggaran kami baru seragam gratis untuk anak-anak pra sejahtera," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, Rabu (22/4/2026).

Diketahui, TKD dari pusat ke Kota Malang pada tahun anggaran (TA) 2026 menurun sekitar Rp284 miliar atau 21,22 persen. Di tahun ini, Pemkot Malang hanya menerima sekitar Rp1,057 triliun, turun dari anggaran tahun lalu yang mencapai Rp1,342 triliun.

Suwarjana mengakui, keterbatasan anggaran membuat pemerintah kota harus melakukan penyesuaian prioritas program. Dampaknya, program seragam gratis yang sebelumnya bersifat lebih luas kini dipersempit hanya untuk kelompok pra sejahtera.

Berbeda dengan tahun ajaran 2025/2026 yang menjangkau seluruh siswa baru kelas 1 SD dan kelas 7 SMP negeri, pada tahun ini penentuan penerima akan melalui mekanisme seleksi berbasis kondisi ekonomi siswa.

Menurut Suwarjana, pihak sekolah akan menjadi mengusulkan nama-nama siswa penerima bantuan. Hal ini karena sekolah dinilai paling memahami kondisi sosial ekonomi peserta didiknya.

"Ada syarat-syaratnya, kemudian yang mengajukan adalah sekolah. Karena yang tahu apakah anak tersebut pra sejahtera atau tidak, adalah pihak sekolah," jelasnya.

Penurunan cakupan program ini juga terlihat dari sisi anggaran yang disediakan. Jika pada tahun sebelumnya anggaran program seragam gratis mencapai Rp6 miliar, pada tahun ini hanya dialokasikan sekitar Rp2 miliar.

"Dari nominalnya itu saja sudah kelihatan," tambah Suwarjana.

Dengan keterbatasan tersebut, jumlah penerima bantuan diperkirakan hanya sekitar 1.000 siswa, jauh lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 13 ribu siswa gabungan jenjang SD dan SMP.

Selain itu, wacana perluasan program yang menyasar siswa baru di sekolah swasta juga dipastikan belum dapat direalisasikan pada tahun ini. Lagi-lagi, faktor efisiensi anggaran menjadi alasan utama. "Belum bisa terealisasi. Karena efisiensi itu tadi," tegasnya.

Namun, pemerintah tetap berupaya menjaga kualitas bantuan yang diberikan. Pada tahun ini, Disdikbud Kota Malang menargetkan bantuan diberikan dalam bentuk seragam jadi, bukan lagi kain seperti tahun sebelumnya.

Untuk siswa SD, bantuan berupa satu stel seragam merah putih dan satu stel seragam pramuka. Sementara untuk siswa SMP, bantuan berupa seragam putih biru dan pramuka. Seluruh paket juga diupayakan dilengkapi dengan atribut seperti dasi dan topi.

"Kami usahakan seragam jadi karena untuk pra sejahtera. Lengkap dengan dasi insyaallah," kata Suwarjana.

Adapun mekanisme distribusi bantuan akan tetap mengacu pada pola sebelumnya, yakni diberikan saat siswa mulai masuk tahun ajaran baru 2026/2027.

Sebagai perbandingan, pada tahun ajaran 2025/2026, program seragam gratis di Kota Malang menyasar 7.159 siswa SD dan 6.637 siswa SMP. Total anggaran yang digelontorkan saat itu mencapai sekitar Rp6 miliar melalui Disdikbud Kota Malang.

Paket bantuan yang diberikan kala itu berupa 2 stel kain seragam lengkap dengan atribut pelengkap. Untuk siswa SD terdiri dari kain seragam merah putih dan pramuka, sedangkan untuk siswa SMP berupa kain putih biru dan pramuka.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.