03 April 2026

Get In Touch

Waspada Lonjakan Campak, Vaksinasi Solusi Utama Pencegahan

Waspada Lonjakan Campak, Vaksinasi Solusi Utama Pencegahan

SURABAYA ( LENTERA ) - Meninggalnya seorang dokter muda di Cianjur yang diduga berkaitan dengan campak menjadi pengingat bahwa penyakit ini tidak bisa dipandang remeh. Selain sangat mudah menular, campak juga berpotensi menimbulkan komplikasi berat hingga berakibat fatal apabila tidak ditangani secara tepat.

Biro Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit akut yang disebabkan virus dari genus Morbillivirus dan termasuk dalam kelompok penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Walau sering dianggap penyakit ringan yang hanya ditandai demam dan ruam, campak sebenarnya dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, diare, hingga peradangan otak (ensefalitis) yang berisiko menimbulkan kecacatan bahkan kematian.

“Vaksinasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat dan kematian akibat penyakit campak,” demikian keterangan Kemenkes.

Lalu, bagaimana langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah campak?

Lengkapi imunisasi campak

Upaya utama untuk mencegah campak adalah melengkapi imunisasi. Kemenkes menyebutkan bahwa kekebalan terhadap campak dapat diperoleh melalui vaksinasi, infeksi alami, maupun kekebalan pasif dari ibu kepada bayi yang biasanya bertahan hingga usia tertentu.

Karena itu, kelompok yang tergolong rentan antara lain bayi berusia di atas satu tahun yang belum mendapatkan imunisasi, anak-anak, serta remaja dan orang dewasa yang belum memperoleh vaksin secara lengkap. Vaksin campak membantu tubuh membentuk kekebalan sehingga mampu mencegah infeksi atau setidaknya mengurangi tingkat keparahan gejala.

Kenali cara penularan

Mengutip laman Kemenkes, campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Virus dapat menyebar melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.

Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau benda yang telah terkontaminasi virus. Bahkan, virus campak dapat bertahan di permukaan benda selama beberapa jam sehingga risiko penularan tetap ada ketika seseorang menyentuh benda tersebut lalu menyentuh hidung atau mulut.

Kemenkes menambahkan, penularan dapat terjadi sejak sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelah ruam terlihat.

Kenali gejala sejak dini

Gejala campak biasanya diawali demam tinggi yang disertai batuk, pilek, sakit tenggorokan, serta mata merah dan sensitif terhadap cahaya. Penderita juga dapat merasakan lemas, kehilangan nafsu makan, hingga mengalami diare atau muntah.

Beberapa hari kemudian, muncul bercak merah atau ruam yang biasanya bermula dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh. Pada sebagian kasus, juga muncul bercak putih keabu-abuan di dalam mulut.

Jika kondisi semakin memburuk, misalnya muncul sesak napas, penderita harus segera mendapatkan penanganan medis karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda terjadinya komplikasi.

Waspadai faktor risiko

Kemenkes mencatat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang tertular campak, di antaranya belum mendapatkan imunisasi, tinggal di lingkungan dengan kepadatan penduduk tinggi, kekurangan vitamin A, tidak memperoleh ASI eksklusif pada bayi, serta bepergian ke wilayah yang memiliki kasus campak tinggi.

Konsumsi vitamin dan makanan bergizi

Dalam penanganan kasus campak, tenaga kesehatan dapat memberikan vitamin A untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menurunkan risiko komplikasi.
Selain itu, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, beristirahat cukup, serta menjaga kondisi tubuh agar tetap prima.

Terapkan PHBS

Pencegahan campak juga dapat dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain rajin mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, serta rutin membersihkan dan mendisinfeksi permukaan benda di rumah.

Gunakan masker dan batasi kontak

Masyarakat yang sedang sakit disarankan menggunakan masker serta menghindari kontak dengan orang lain guna mencegah penularan. Selain itu, penting pula menerapkan etika batuk dan bersin serta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi tubuh sedang tidak sehat.

Kasus yang terjadi di Cianjur tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pencegahan campak harus dilakukan secara serius, terutama melalui imunisasi dan penerapan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.(Nathasya_Mahasiswa Uinsa Berkontribusi dalam tulisan ini).
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.