31 March 2026

Get In Touch

Cerita Adista, Mahasiswa FTMM Unair yang Lolos Program Riset di Taiwan

Adista Wahyu Kristian, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), yang berhasil lolos program riset internasional Taiwan Experience Education Program (TEEP) di National Taiwan University, Taiwan.
Adista Wahyu Kristian, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), yang berhasil lolos program riset internasional Taiwan Experience Education Program (TEEP) di National Taiwan University, Taiwan.

SURABAYA (Lentera) - Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair), Adista Wahyu Kristian, berhasil lolos program riset internasional Taiwan Experience Education Program (TEEP) di National Taiwan University, Taiwan.

Adista mengaku tak menyangka bisa sampai di titik ini. Ia mengetahui program tersebut dari koordinator program studinya, dan dalam waktu singkat harus menyiapkan seluruh kebutuhannya.

“Saya mendapat arahan dari kaprodi untuk mendaftar. Prosesnya cukup menantang karena ada seleksi berkas dan wawancara. Waktunya hanya sekitar satu bulan, jadi benar-benar harus mempersiapkan diri dengan serius,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Meski sempat merasa kesulitan saat tahap wawancara, persiapan yang matang membuatnya mampu melewati seleksi dan akhirnya diterima sebagai peserta TEEP 2026.

Bagi Adista, memilih National Taiwan University bukan tanpa alasan. Ia ingin memperdalam bidang teknik elektro sekaligus belajar langsung di lingkungan akademik yang memiliki reputasi kuat di tingkat internasional. 

“Saya ingin memperdalam bidang elektro yang saya tekuni, apalagi fasilitas riset di NTU sangat lengkap. Selain itu, lokasinya juga strategis dan mudah dijangkau transportasi umum,” jelasnya.

Menjalani program di luar negeri tentu bukan hal mudah, terutama bagi mahasiswa yang baru pertama kali tinggal di negara lain. Adista pun merasakan hal yang sama saat pertama tiba di Taiwan.

Ia harus beradaptasi dengan makanan, sistem transportasi, hingga bahasa yang digunakan sehari-hari.

“Awalnya cukup sulit karena makanan di sini rasanya lebih ringan. Transportasinya juga sangat maju, jadi harus cepat menyesuaikan diri. Selain itu, saya juga masih belajar memahami bahasa Mandarin karena aksennya berbeda-beda,” tuturnya.

Selama mengikuti program TEEP, Adista mengaku lebih banyak belajar langsung di laboratorium. Topik riset yang ia pelajari cukup menantang, yakni Terrahertz Antenna Design for 6G Communication.

Melalui riset tersebut, ia mempelajari bagaimana merancang antena berukuran kecil namun mampu menghasilkan kecepatan data ultra-tinggi. Teknologi ini diproyeksikan menjadi salah satu fondasi penting untuk jaringan 6G di masa depan.

“Di sini saya banyak belajar hal baru, terutama tentang bagaimana teknologi komunikasi berkembang sangat cepat. Pengalaman ini benar-benar membuka wawasan saya,” katanya.

Di akhir ceritanya, Adista berharap semakin banyak mahasiswa yang berani mencoba peluang internasional seperti TEEP. Menurutnya, kesempatan seperti ini tidak hanya menambah pengalaman akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri.

Adista pun membagikan beberapa tips sederhana. Mulai dari mempelajari bahasa negara tujuan, aktif mencari informasi program internasional, hingga menyiapkan CV dan portofolio dengan baik.

“Jangan ragu mencoba. Kalau sudah ada kesempatan, manfaatkan sebaik mungkin,” pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor:Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.