26 March 2026

Get In Touch

Lebaran, Ujian Penderita Kanker

Berjejer kue di atas meja. Tapi tidak boleh saya sentuh
Berjejer kue di atas meja. Tapi tidak boleh saya sentuh

SURABAYA (Lentera) -Usai lebaran, biasanya dijadikan balasan bagi orang yang berpuasa. Apa yang bisa dimakan, dihabisi. Yang penting halal.

Yang berminyak, yang manis, yang kecut, yang santan, semuanya dilahap. Tanpa mikir akibatnya. "Saya kalau ke rumah saudara-saudara, habis lebaran, apa saja yang disuguhkan, dihabisi," cerita Saiful, teman saya yang tinggal di Mojosari.

Dilain pihak, Lebaran merupakan ujian berat buat penderita kanker. Kalau melihat keluarga di rumah makan yang enak, rasanya kepingin juga.

Di atas meja, berjejer berbagai jenis kue. Disentuh pun tidak boleh. Ngiler melihatnya. Tapi, harus bisa menahan diri.

Kadang-kadang, ingin mencicipi sedikit. Tapi, begitu tangan menyentuh makanan, suara anak dan isteri, bagaikan ada yang komando. "Jangan, Pak," kata mereka serentak.

Ada juga anak yang merasa iba. Tapi apa boleh buat. Suara kalah banyak. Sehingga harus diurungkan. Itu sebuah perjuangan sekaligus tantangan. Bila ingin sehat.

Dokter menasehati. Terdapat sejumlah makanan pantangan. Alasannya, bisa menyuburkan kembali kanker.

Misalnya. Konsumsi daging merah. Daging olahan, seperti bakso, sosis, makan siap saji, sayur mentah, sate dan lainnya. Begitu juga dengan minuman yang manis-manis. Atau yang mengandung alkohol. Kopi manis. Teh manis, susu manis, dan lain-lain.

Sejumlah larangan itu pasti sudah dihafal luar kepala oleh penderita kanker. Karena dokter pasti menjelaskan larangan itu. Tinggal pasien mau mematuhi atau tidak.

Tapi, kadang-kadang dokter mengatakan boleh. Asalkan dibatasi.

Kelonggaran seperti itulah, yang akhirnya membuat terlena. Karena itu, dokter selalu menyarankan. Salah satu cara untuk melawannya adalah, dukungan dari keluarga.

Biasa, penderita kanker, juga suka bandel. Dilarang anak dan isteri di rumah, malah makan di luar rumah. Padahal, masakan di luar itu, tidak terukur. Yang penting enak.

Bumbu masak banyak pun, tidak ada yang larang. Gula yang banyak pun tidak apa-apa. Yang penting enak di lidah. Yang pentinh, banyak pembeli.

Padahal, itu salah satu larangan buat orang yang mengalami kanker.

Salah satu teman senam saya bercerita. Dia sudah berani makan sate. Sudah berani makan gule. Toh tidak merasakan apa-apa.

Saya hanya bisa tersenyum, dengar kata-kata dia. Habis makan, memang tidak merasakan apa-apa. Bahkan saat makan terasa enak sekali.

Tapi ingat. Banyak penderita kanker. Setelah dicek di laboratorium sudah merajalela ke mana-mana. Awalnya sudah sembuh, ternyata malah stadium tinggi.

Inilah yang harus dijaga. Karena tidak ada tanda-tanda yang bisa langsung dirasakan.

Apakah kalau menghindari makanan dan minuman pantangan itu dijamin sehat ?

Belum tentu juga. Tapi yang namanya ikhtiar, melalui perjuangan. Insya Allah akan membuahkan hasil. 

Saya, kalau berhadapan dengan makanan yang enak. Terngiang di telinga, nasehat dr Tommy Lesmana Sp B, Subsp. BD(K) tempat saya konsultasi.

"Kalau boleh saya ngomong jujur. Masa kritis kanker itu, dua tahun."

Kata-kata itu, tak akan saya lupakan. Sebagai peringatan, agar saya tau diri. (*)

Penulis: Nazaruddin Ismail|Editor:Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.