18 March 2026

Get In Touch

BRIN Temukan Dua Spesies Ngengat Baru Endemik Papua dan Sulawesi

BRIN Temukan Dua Spesies Ngengat Baru Endemik Papua dan Sulawesi

SURABAYA ( LENTERA ) - Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mencatatkan temuan penting di bidang keanekaragaman hayati. Dua spesies ngengat baru yang berasal dari Papua dan Sulawesi berhasil diidentifikasi sebagai spesies endemik yang belum pernah tercatat sebelumnya dalam literatur ilmiah dunia.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026. Publikasi ini menegaskan bahwa Indonesia masih menyimpan potensi biodiversitas yang sangat besar, khususnya dari kelompok serangga.

Dua spesies yang ditemukan masing-masing diberi nama Glyphodella fojaensis dan Chabulina celebesensis. Penamaan itu merujuk pada lokasi asal ditemukannya spesimen, sekaligus mengikuti kaidah ilmiah taksonomi internasional.

Penemuan ini bukan hasil penelitian singkat. Riset dilakukan melalui survei lapangan yang berlangsung sejak 2002 hingga 2017, serta pengkajian spesimen koleksi di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). Para peneliti menggabungkan metode eksplorasi langsung di habitat alami dengan analisis morfologi detail di laboratorium.

Glyphodella fojaensis ditemukan di kawasan Pegunungan Foja, Papua. Spesies ini menjadi catatan penting karena merupakan satu-satunya anggota genus Glyphodella yang sejauh ini diketahui terdapat di Indonesia. Sementara itu, Chabulina celebesensis ditemukan di sejumlah wilayah Sulawesi dan menunjukkan karakter unik yang membedakannya dari spesies lain dalam genus yang sama.
Dalam proses identifikasi, peneliti menggunakan perangkap cahaya untuk menarik ngengat yang aktif pada malam hari. Spesimen yang diperoleh kemudian diperiksa menggunakan mikroskop untuk menganalisis pola sayap, warna, serta struktur genitalia, bagian tubuh yang menjadi pembeda utama dalam klasifikasi serangga Lepidoptera.

Ciri Khas yang Membedakan
Secara morfologi, Glyphodella fojaensis memiliki bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan yang menjadi ciri pembeda paling mencolok. Selain itu, struktur genitalia jantannya menunjukkan karakter yang tidak ditemukan pada spesies lain dalam kelompoknya. Sedangkan spesies Chabulina celebesensis dikenali dari pola garis khas pada sayap serta perbedaan detail anatomi reproduktifnya. Karakteristik inilah yang memastikan bahwa kedua spesimen tersebut benar-benar merupakan spesies baru, bukan variasi dari spesies yang telah dikenal sebelumnya. Penelitian taksonomi semacam ini memerlukan ketelitian tinggi karena perbedaan antarspesies sering kali sangat halus. Kesalahan identifikasi dapat berdampak pada kekeliruan data biodiversitas secara global.

Penemuan dua spesies baru ini memperkaya data keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya dari famili Crambidae dalam ordo Lepidoptera. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi di dunia, namun masih banyak spesies yang belum teridentifikasi secara ilmiah.

Keberadaan spesies endemik menandakan bahwa suatu wilayah memiliki kondisi ekologis unik yang memungkinkan evolusi organisme secara terpisah dari wilayah lain. Namun, sifat endemik juga membuat spesies tersebut rentan terhadap perubahan lingkungan.
Habitat hutan tropis di Papua dan Sulawesi yang menjadi tempat hidup kedua ngengat ini menghadapi berbagai tekanan, seperti deforestasi, alih fungsi lahan, serta perubahan iklim. Jika habitatnya rusak, spesies dengan sebaran terbatas berisiko mengalami penurunan populasi bahkan kepunahan sebelum sempat dipelajari lebih lanjut.

Dorongan untuk Konservasi dan Riset Lanjutan
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini menjadi pengingat pentingnya eksplorasi biodiversitas yang berkelanjutan. Masih banyak kawasan di Indonesia, terutama di bagian timur, yang belum terpetakan secara menyeluruh dari sisi keanekaragaman serangga.

Selain memperkaya ilmu pengetahuan, identifikasi spesies baru juga berperan dalam mendukung kebijakan konservasi. Data ilmiah mengenai keberadaan dan sebaran spesies menjadi dasar dalam penentuan kawasan lindung maupun strategi pengelolaan lingkungan.
Riset ini juga menunjukkan pentingnya koleksi ilmiah yang tersimpan di museum sebagai sumber data jangka panjang. Spesimen yang dikumpulkan bertahun-tahun lalu dapat menjadi bahan kajian baru seiring berkembangnya metode analisis.para peneliti berharap penemuan ini dapat meningkatkan kesadaran publik akan kekayaan hayati Indonesia sekaligus urgensi menjaga kelestarian ekosistemnya.

Dengan ditemukannya dua spesies ngengat baru ini, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia. Namun, tantangan ke depan tidak hanya pada penemuan, melainkan juga pada upaya menjaga agar kekayaan alam tersebut tetap lestari bagi generasi mendatang. (Nabilla – Mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.