13 March 2026

Get In Touch

Tinglat Penularan Campak Tinggi, Pakar Unair: Kenali Gejala Awal Berupa Demam Tinggi

Ilustrasi penyakit campak (Foto: freepik)
Ilustrasi penyakit campak (Foto: freepik)

SURABAYA (Lentera) -Penyakit campak kembali menjadi perhatian di tengah masyarakat karena tingkat penularannya yang tinggi, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan individu dengan sistem imun lemah. 

Pakar Kesehatan Anak dari Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Irwanto, dr., SpA(K), mengingatkan masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala awal penyakit tersebut agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Prof. Irwanto menjelaskan campak sering kali kurang mendapat perhatian karena gejalanya dianggap mirip dengan penyakit infeksi biasa. Padahal, jika tidak segera ditangani, campak dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan berisiko menyebabkan kematian.

Menurutnya, gejala awal campak dapat dikenali melalui munculnya batuk dan pilek yang disertai demam tinggi serta ruam merah khas yang biasanya muncul di area belakang leher sebelum menyebar ke bagian tubuh lainnya.

“Sebelum seseorang memastikan dirinya terinfeksi campak atau tidak, perhatikan terlebih dahulu gejala awal seperti batuk, pilek, demam tinggi, serta ruam merah yang khas di bagian belakang leher,” ujarnya, Jumat (13/3/2026).

Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Unair tersebut menuturkan penularan campak di ruang publik tergolong sangat tinggi. Virus campak dapat menyebar melalui droplet atau percikan cairan dari mulut dan hidung saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara.

Selain itu, kontak langsung dengan penderita juga dapat menjadi jalur penularan penyakit tersebut.

“Campak merupakan penyakit menular yang berisiko tinggi hingga menyebabkan kematian. Karena itu, ketika seseorang terkonfirmasi terinfeksi, sebaiknya segera melakukan isolasi diri dan menghindari kontak dengan orang lain, terutama anak-anak,” ungkapnya.

Ia menambahkan, risiko penularan pada anak-anak akan semakin besar apabila mereka belum mendapatkan vaksin campak dan rubella atau Measles-Rubella (MR). Hal ini karena sistem kekebalan tubuh anak masih dalam tahap perkembangan sehingga lebih rentan terhadap infeksi.

Melihat tingginya risiko komplikasi akibat campak, Prof. Irwanto menilai peningkatan edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Upaya edukasi, menurutnya, perlu dilakukan secara masif melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan dan Kementerian Kesehatan, agar masyarakat memahami bahaya campak serta pentingnya vaksinasi.

“Kami terus mendorong peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya campak dan pentingnya vaksinasi pada anak-anak sebagai langkah efektif untuk mencegah terjadinya wabah,” jelasnya.

Ia juga mengimbau para orang tua untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan vaksin MR di fasilitas kesehatan terdekat.

Menurutnya, keberhasilan pencegahan campak tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk melindungi anak-anak melalui imunisasi sejak usia dini.

“Campak bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Risiko komplikasi hingga kematian harus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap gejala yang muncul dan tidak menunda vaksinasi,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.