SURABAYA ( LENTERA ) - Manusia termasuk makhluk yang sangat khas di Bumi. Hingga kini, hanya manusia yang diketahui mampu membuat pakaian, mengolah makanan melalui proses memasak, menciptakan teknologi seperti ponsel pintar, hingga merancang pesawat terbang. Namun hal itu memunculkan pertanyaan menarik, jika suatu hari manusia benar-benar punah, adakah spesies lain yang berpotensi berevolusi dan mencapai tingkat kecerdasan seperti manusia?
Jika manusia tiba-tiba menghilang dari Bumi, ekosistem akan mengalami perubahan besar. Menurut Martha Reiskind, ahli ekologi molekuler dari North Carolina State University, manusia sebenarnya cukup mampu memprediksi perubahan jangka pendek di alam.
"Kita cukup andal dalam membuat prediksi jangka pendek," ujar Martha.
Tanpa kehadiran manusia, perubahan iklim kemungkinan masih terus berlangsung. Banyak spesies akan dipaksa beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru, seperti meningkatnya kekeringan. Hewan yang bergantung pada lingkungan dingin, misalnya beruang kutub dan penguin, diperkirakan akan mengalami penurunan populasi.
Namun dalam jangka waktu sangat panjang, evolusi bisa menghasilkan hal-hal yang tidak terduga. Salah satunya adalah fenomena konvergensi evolusi, yakni ketika spesies berbeda mengembangkan bentuk atau kemampuan serupa karena menempati lingkungan yang sama. Contohnya dapat dilihat pada bentuk tubuh ikan dan lumba-lumba yang sama-sama ramping seperti torpedo, meskipun berasal dari garis evolusi yang berbeda.
"Jika manusia punah, sangat mungkin hominid lain seperti simpanse bisa berkembang menggantikan kita," tulis para peneliti dalam jurnal Nature tahun 2021.
Agar dapat mengambil peran seperti manusia, misalnya membangun struktur kompleks atau memanipulasi lingkungan, suatu spesies harus memiliki alat tubuh yang mampu memegang dan memanipulasi benda. Salah satu fitur penting adalah jempol oposabel, yaitu jempol yang dapat menyilang terhadap jari lain sehingga memungkinkan genggaman yang kuat.
Kera besar seperti simpanse dan bonobo sebenarnya sudah memiliki kemampuan ini. Mereka juga diketahui dapat menggunakan alat sederhana di alam liar. Karena itu, beberapa ilmuwan menilai bahwa jika manusia punah, primata seperti simpanse berpotensi berkembang lebih jauh dalam jangka waktu evolusi yang sangat panjang.
Namun proses tersebut tidak terjadi dengan cepat. Dibutuhkan ratusan ribu bahkan jutaan tahun untuk mencapai tingkat kecerdasan dan kemampuan teknologi seperti manusia. Selain itu, jika bencana besar mampu memusnahkan manusia, kemungkinan besar kerabat dekat manusia juga akan ikut terdampak.
Burung: Pewaris Dinosaurus yang Cerdas
Beberapa ilmuwan justru melihat burung sebagai kandidat menarik. Burung merupakan keturunan langsung dinosaurus yang masih bertahan hingga kini.
Penelitian menunjukkan bahwa beberapa burung memiliki kecerdasan luar biasa. Burung gagak dan raven, misalnya, mampu memecahkan masalah dengan tingkat kecerdasan yang sering dibandingkan dengan simpanse. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, seekor burung bahkan mampu membentuk kawat menjadi alat pengait untuk mengambil makanan.
Burung nuri abu-abu Afrika juga diketahui dapat mempelajari puluhan hingga ratusan kata dan memahami konsep matematika sederhana. Selain itu, beberapa spesies burung hidup dalam koloni besar dan membangun sarang komunal yang digunakan selama bertahun-tahun—sebuah bentuk organisasi sosial yang cukup kompleks.
Gurita: Jenius dari Laut
Di lautan, gurita dikenal sebagai salah satu hewan paling cerdas. Menurut peneliti kecerdasan cephalopoda Jennifer Mather, gurita mampu mengenali objek, memecahkan masalah, bahkan menggunakan benda sebagai alat perlindungan.
Di Australia, para peneliti bahkan menemukan komunitas gurita yang dijuluki “Octlantis”, tempat sejumlah gurita hidup berdekatan dalam satu area.
Meski demikian, gurita memiliki kendala besar untuk menjadi penguasa daratan. Tubuh mereka dirancang sepenuhnya untuk kehidupan laut. Darah mereka berbasis tembaga sehingga tidak efisien untuk bernapas di udara. Karena itu, kemungkinan gurita berevolusi menjadi makhluk darat sangat kecil.
Serangga Sosial: Kandidat Paling Tangguh
Menurut Mather, pesaing paling kuat justru datang dari makhluk kecil seperti semut dan rayap. Serangga sosial ini telah bertahan di Bumi selama ratusan juta tahun dan mampu beradaptasi hampir di semua lingkungan.
Koloni mereka memiliki sistem organisasi yang kompleks: membangun sarang rumit, bercocok tanam jamur, hingga berkomunikasi melalui getaran atau sinyal kimia.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa rayap dapat mengirim sinyal ke anggota koloni dari jarak jauh.
Dengan kemampuan bekerja sama dan daya tahan luar biasa terhadap perubahan lingkungan, semut dan rayap berpotensi mendominasi ekosistem di masa depan.
Meski banyak spekulasi tentang spesies yang bisa menggantikan manusia, para ilmuwan menegaskan bahwa evolusi sangat sulit diprediksi. Semakin jauh kita mencoba melihat masa depan, semakin besar pula ketidakpastian yang muncul.
Perubahan evolusi dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari mutasi acak, perubahan lingkungan, hingga bencana alam yang tak terduga. Karena itu, kemungkinan munculnya spesies baru dengan kecerdasan setara manusia tetap menjadi misteri yang mungkin baru terjawab dalam jutaan tahun ke depan.(Nabilla – Mahasiswa UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)





.jpg)
