03 February 2026

Get In Touch

Menelisik Sisi Lain GERD: Saat Pikiran Jadi Pemicu Gejolak Lambung

Menelisik Sisi Lain GERD: Saat Pikiran Jadi Pemicu Gejolak Lambung

SURABAYA ( LENTERA ) - Selama ini, stigma masyarakat sering kali menempatkan ketidakteraturan jam makan sebagai tersangka utama di balik serangan Gastroesophageal Reflux Disease atau yang lebih dikenal dengan sebutan GERD. Namun, fakta medis terkini menunjukkan bahwa penyebab penyakit ini jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan perut kosong. Faktor psikologis, terutama stres dan tekanan pikiran, kini terbukti memiliki peran signifikan dalam memicu naiknya asam lambung ke saluran kerongkongan.

Keterkaitan antara kesehatan mental dan pencernaan bukanlah sebuah kebetulan belaka. Dalam dunia kedokteran, dikenal konsep gut-brain axis yang menjelaskan bahwa otak dan sistem pencernaan memiliki jalur komunikasi dua arah yang sangat intim. Ketika seseorang mengalami stres kronis, tubuh secara otomatis masuk ke dalam mode siaga yang mengganggu fungsi normal saluran cerna. Tekanan emosional yang tidak terkelola dengan baik dapat melemahkan kinerja otot katup kerongkongan bawah, yang seharusnya bertugas sebagai pintu satu arah untuk mencegah isi lambung kembali naik.
Dampaknya, penderita tidak hanya merasakan sensasi terbakar di dada atau heartburn, tetapi juga sering kali merasa sesak dan cemas yang saling memperparah satu sama lain. Fenomena ini menciptakan lingkaran setan; stres memicu GERD, dan rasa sakit fisik akibat GERD kemudian meningkatkan level stres pasien. Oleh karena itu, pengobatan yang hanya mengandalkan obat-obatan kimia tanpa menyentuh akar permasalahan psikologis sering kali menemui jalan buntu atau hanya bersifat meredakan sementara.

Menghadapi kondisi ini, para ahli kesehatan menyarankan perubahan gaya hidup yang menyeluruh. Salah satu langkah yang paling mendasar adalah dengan memperbaiki cara kita mengonsumsi makanan melalui praktik makan dengan penuh kesadaran atau mindful eating. Dengan mengunyah makanan secara perlahan dan menghindari distraksi seperti gawai saat makan, seseorang dapat membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal dan mengurangi beban kerja lambung. Selain itu, pengaturan porsi makan menjadi lebih kecil namun lebih sering juga jauh lebih disarankan daripada makan dalam porsi besar yang dapat menekan katup lambung.

Di sisi lain, manajemen stres menjadi pilar yang tidak kalah pentingnya. Praktik relaksasi seperti pernapasan diafragma yang rutin terbukti mampu menenangkan sistem saraf dan memperkuat otot-otot di sekitar saluran cerna. Menjaga jarak waktu antara makan malam dan waktu tidur minimal tiga jam juga menjadi kunci agar gravitasi tidak membantu asam lambung naik saat tubuh berbaring. Dengan memadukan pola makan yang disiplin dan ketenangan pikiran, risiko serangan GERD dapat ditekan secara signifikan, membuktikan bahwa lambung yang sehat bermula dari pikiran yang tenang.
Tips dan Trik Mengelola GERD Akibat Stres

Untuk meredam gejolak asam lambung yang dipicu oleh pikiran, Anda dapat menerapkan strategi 3S: Sabar dalam mengunyah, Selektif dalam memilih asupan, dan Santai dalam mengelola emosi.

Pertama, pastikan Anda memberikan waktu bagi tubuh untuk mencerna dengan tidak langsung berbaring setelah makan.
Kedua, hindari zat-zat pemicu yang sering dicari saat stres seperti kafein berlebih, cokelat, atau makanan pedas yang dapat mengiritasi dinding lambung.
Terakhir, luangkan waktu setidaknya sepuluh menit setiap hari untuk melakukan hobi atau meditasi ringan guna menurunkan kadar hormon kortisol yang menjadi pemicu utama stres dalam tubuh. (Nathasya_UINSA, berkontribusi dalam tulisan ini)
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.