SURABAYA (Lentera) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap virus nipah (NiV).
Penyebab utama virus nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, juga dikenal sebagai flying foxes. Kelelawar ini merupakan reservoir alami virus, artinya mereka dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit. Virus ini kemudian dapat menular ke hewan lain, seperti babi, atau langsung ke manusia.
"Penyakit virus nipah merupakan penyakit zoonotik yang memiliki inang pada kelelawar buah, kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kemenkes, Murti Utami, seperti dikutip dari Antara, Minggu (1/2/2026).
Virus ini dapat menular melalui perantara hewan lain (seperti babi) melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus seperti buah atau nira.
Sebagai langkah kewaspadaan terhadap penyakit yang ditimbulkan akibat virus nipah, Murti juga mengimbau agar masyarakat tidak mengkonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya karena kelelawar dapat mengkontaminasi sadapan aren atau nira pada malam hari.
"Oleh karena itu, sebelum mengkonsumsi aren/nira, sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Kemudian, cuci dan kupas buah secara menyeluruh, serta buang buah yang ada tanda gigitan kelelawar," tuturnya.
Mengutip halodoc virus nipah adalah ancaman kesehatan global yang serius dengan potensi pandemik. Meskipun belum ada pengobatan khusus, pencegahan melalui kebersihan diri, keamanan pangan, dan kewaspadaan terhadap hewan yang berpotensi terinfeksi adalah kunci utama.
Virus nipah adalah virus zoonosis yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae. Pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998 di Malaysia saat terjadi wabah di kalangan peternak babi.
Sejak saat itu, virus nipah terus menjadi perhatian dunia karena potensi pandeminya dan tingkat kematian yang tinggi.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), infeksi virus nipah dapat menyebabkan penyakit yang parah pada manusia, mulai dari infeksi pernapasan hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.
Sampai saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus nipah, sehingga pencegahan menjadi kunci utama.
Virus nipah menyebar melalui beberapa jalur utama: Hewan ke manusia dengan kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah dan babi. Kemudian juga bisa menuar lewat makanan yang terkontaminasi, makanan yang terpapar cairan tubuh hewan terinfeksi, seperti nira kelapa mentah yang dikumpulkan di dekat habitat kelelawar atau buah-buahan yang digigit kelelawar.
Selain itu juga bisa menular dari manusia ke manusia melaui kontak erat dengan cairan tubuh (darah, urin, air liur, atau cairan pernapasan) dari orang yang terinfeksi. Penularan ini sering terjadi di lingkungan rumah sakit atau keluarga.
Sementara, masa inkubasi virus nipah, yaitu waktu antara paparan dan munculnya gejala, biasanya 4-14 hari, tetapi bisa juga lebih panjang. Gejala infeksi virus nipah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, dan dapat berkembang dengan cepat.
Gejala awal: Demam, sakit kepala, nyeri otot (mialgia), muntah, dan sakit tenggorokan.
Masalah pernapasan: Batuk, sulit bernapas, dan pneumonia (radang paru-paru) atipikal. Pahami informasi lain seputar Infeksi Saluran Pernapasan – Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya agar kamu waspada.
Ensefalitis: Peradangan otak yang dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, penurunan kesadaran, hingga koma dalam waktu 24-48 jam.
Keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat meningkatkan risiko kematian akibat infeksi virus nipah.
Diagnosis infeksi virus nipah dilakukan melalui serangkaian tes laboratorium untuk mendeteksi keberadaan virus atau antibodi terhadap virus dalam tubuh. Metode diagnosisnya meliputi: RT-PCR (reverse transcription polymerase chain reaction); Mendeteksi materi genetik virus dalam sampel usap tenggorokan, urin, cairan serebrospinal, atau darah.
ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay); Mendeteksi antibodi terhadap virus nipah dalam sampel darah.
Uji netralisasi virus: Mengukur kemampuan antibodi untuk menetralkan virus.
Isolasi virus: Menumbuhkan virus dari sampel klinis dalam kultur sel.
Untuk pengobatan, sampai saat ini, belum ada obat antivirus khusus yang terbukti efektif melawan virus nipah. Pengobatan yang diberikan bersifat suportif, yaitu bertujuan untuk meringankan gejala dan mencegah komplikasi.
Untuk langkah pencegahan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri yaitu cuci tangan secara rutin dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah kontak dengan hewan atau orang sakit. Kemudian, menghindari kontak dengan hewan seperti kelelawar dan babi, terutama jika hewan tersebut terlihat sakit.
Langkah lain adalah dengan menjaga keamanan pangan yaitu tidak mengonsumsi nira mentah atau buah-buahan yang mungkin telah terkontaminasi oleh kelelawar. Masak makanan dengan matang.
Praktik pertanian yang aman untuk mencegah penyebaran virus dari hewan ke manusia. Penggunaan APD seperti masker, sarung tangan, dan gaun saat merawat pasien yang terinfeksi virus nipah. (*)
Editor : Lutfiyu Handi/berbagai sumber





.jpg)
