MEULABOH (Lentera) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat memastikan seluruh 12 unit hunian sementara (huntara) yang dibangun untuk korban bencana alam di Kecamatan Pante Ceureumen kini telah ditempati. Pemerintah menegaskan kenyamanan penyintas bencana menjadi prioritas utama, termasuk memastikan tidak ada atap yang bocor.
"Alhamdulillah, semua huntara sudah dihuni dan ditempati masyarakat korban bencana alam," ujar Bupati Aceh Barat Tarmizi di Meulaboh, melansir Antara, Jumat (15/5/2026).
Sebanyak 12 unit huntara tersebut tersebar di 2 desa, yakni Desa Jambak dan Desa Lawet, Kecamatan Pante Ceureumen. Lokasi kedua desa berada sekitar 60 kilometer di timur Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat.
Menurut Tarmizi, pemerintah daerah terus memantau kondisi para penyintas yang saat ini tinggal di huntara sambil menunggu pembangunan hunian tetap (huntap) oleh BNPB.
Ia menegaskan, fasilitas huntara dirancang untuk memberikan tempat tinggal yang layak dan aman bagi warga. Karena itu, pemerintah memastikan setiap unit dalam kondisi baik, termasuk bebas dari kebocoran atap.
"Tidak boleh ada atap yang bocor. Kenyamanan masyarakat harus benar-benar terjamin," katanya.
Pada tahap awal, sebagian warga sempat menyampaikan keraguan untuk menempati huntara dan lebih memilih menerima kompensasi dalam bentuk uang tunai. Namun, setelah melihat kondisi dan fasilitas yang tersedia, warga mulai merasakan manfaat tinggal di hunian sementara tersebut.
Pemkab Aceh Barat juga merespons kebutuhan tambahan warga yang membangun dapur secara swadaya menggunakan material seadanya. Pemerintah telah menginstruksikan penyaluran seng baru untuk seluruh dapur agar lebih layak digunakan.
Selain menjadi tempat tinggal sementara, huntara tersebut nantinya akan menjadi aset milik masyarakat setelah hunian tetap selesai dibangun.
"Jika hunian tetap (huntap) sudah selesai dibangun, huntara ini akan sepenuhnya menjadi milik masyarakat," katanya.
Editor: Santi





.jpg)
