SURABAYA (Lentera)– Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya tidak hanya menghadirkan kompetisi mengulek rujak, tetapi juga menjadi ruang kreativitas bagi peserta untuk mengangkat budaya lokal dengan konsep yang lebih segar dan atraktif.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari Trufindo Asta Mandiri melalui konsep bertajuk “Rujak Derby: Pertandingan Rasa Paling Panas Sedunia”.
Mengusung tema besar “Rujak Phoria” yang terinspirasi euforia Piala Dunia 2026, konsep tersebut memadukan unsur kuliner tradisional khas Surabaya dengan atmosfer pertandingan sepak bola. Seluruh elemen pertunjukan, mulai kostum, dekorasi meja, hingga koreografi penyajian, dirancang menyerupai laga sepak bola dengan bahan-bahan rujak cingur sebagai tokoh utama.
Manajer Operasional Trufindo Asta Mandiri, Djoko Ady, mengatakan konsep tersebut dipilih untuk menyesuaikan semangat festival yang tahun ini menonjolkan unsur sportainment dan hiburan rakyat. Menurutnya, pendekatan kreatif diperlukan agar kuliner tradisional tetap menarik bagi generasi muda tanpa kehilangan identitas budaya lokal.
“Festival Rujak Uleg tahun ini punya atmosfer yang sangat meriah karena dikaitkan dengan euforia Piala Dunia. Kami ingin ikut membawa semangat itu lewat konsep ‘Rujak Derby’, jadi ada perpaduan antara budaya lokal, kreativitas, dan hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan,” kata Djoko dikutip Minggu (10/5/2026).
Dalam penampilannya, anggota tim Trufindo tampil sebagai personifikasi bahan rujak cingur seperti cingur, petis, buah, dan sayuran. Atraksi dikemas layaknya pertandingan sepak bola lengkap dengan komentator, yel-yel pendukung, selebrasi kemenangan, hingga aksi mengulek yang dibuat menyerupai strategi permainan di lapangan.
Konsep “Rujak Derby” juga diperkuat dengan desain meja berbentuk mini stadion. Cobek besar ditempatkan sebagai pusat arena pertandingan, sementara properti seperti lapangan hijau, gawang mini, dan jersey warna-warni menambah nuansa kompetitif dalam penampilan mereka.
Tak hanya mengedepankan hiburan visual, Trufindo tetap menjaga kualitas rasa dalam sajian rujak cingur yang dilombakan. Menu utama disiapkan dengan komposisi petis yang seimbang, tekstur cingur yang empuk, serta tingkat kepedasan yang disesuaikan agar dapat dinikmati pengunjung umum.
Mereka juga menghadirkan kreasi menu “Rujak Golden Goal” dengan tampilan menyerupai bola sepak. Sajian tersebut dipadukan dengan saus petis dan perasan jeruk nipis untuk memberikan cita rasa segar yang berbeda dari rujak cingur pada umumnya.
Djoko menambahkan, aspek kebersihan dan kekompakan tim menjadi perhatian penting selama mengikuti festival. Menurut dia, konsep kreatif harus tetap dibarengi dengan proses penyajian yang higienis dan profesional.
“Kami tidak hanya mengejar tampilan, tetapi juga ingin menunjukkan kerja tim yang rapi dan higienis. Tema boleh seru, tapi kualitas rasa dan proses penyajian tetap jadi prioritas kami,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Trufindo Asta Mandiri, Yona Bagus Widyatmoko, menilai Festival Rujak Uleg memiliki potensi besar sebagai agenda budaya unggulan Kota Surabaya. Menurutnya, inovasi konsep dan keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci agar festival tetap relevan dan diminati masyarakat.
“Kami berharap Festival Rujak Uleg bisa terus berkembang dan menjadi kebanggaan Kota Surabaya. Pemkot Surabaya sudah berhasil menjaga tradisi ini tetap hidup, tinggal bagaimana ke depan acaranya terus dibuat kreatif agar makin diminati generasi muda dan wisatawan,” kata pria yang akrab disapa Cak Yebe itu.
Ia juga berharap festival tersebut semakin membuka ruang kolaborasi bagi komunitas, UMKM, hingga perusahaan lokal agar dapat terlibat aktif dalam mempromosikan budaya kuliner khas Surabaya. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak akan memperkuat Festival Rujak Uleg sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif kota.
“Harapan kami festival ini bisa terus konsisten hadir dengan konsep-konsep baru tanpa meninggalkan akar budaya Surabaya. Kalau pelaksanaannya terus berkembang dan partisipasinya semakin luas, Festival Rujak Uleg bisa menjadi ikon wisata budaya yang ditunggu masyarakat setiap tahun,” tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH




.jpg)
