03 May 2026

Get In Touch

Krisis Energi Mengintai, Pemerintah India Ajak Warga Maksimalkan Listrik di Siang Hari

Menteri Energi Terbarukan India, Pralhad Joshi. (foto: ist/HDT)
Menteri Energi Terbarukan India, Pralhad Joshi. (foto: ist/HDT)

NEW DELHI (Lentera) - Pemerintah India mengajak warganya mengubah pola konsumsi energi dengan lebih memaksimalkan penggunaan listrik di siang hari. Langkah ini merupakan respons terhadap terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

"Kami mendorong masyarakat untuk memanfaatkan listrik berbasis tenaga surya pada siang hari, seperti untuk memasak, mengisi daya kendaraan listrik, dan kebutuhan elektronik lainnya," ujar Menteri Energi Terbarukan India, Pralhad Joshi, mengutip Kompas, Jumat (1/5/2026).

Ditegaskannya, pergeseran waktu konsumsi energi menjadi sebelum pukul 17.00 waktu setempat, dapat membantu India mengurangi ketergantungan pada impor energi, khususnya dari jalur yang saat ini terganggu.

"Jika penggunaan energi bisa dipindahkan ke sebelum jam 5 sore, itu akan sangat membantu mengurangi impor energi kita," tegasnya.

Gangguan pasokan energi global dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang selama ini menjadi jalur distribusi sekitar seperempat pasokan minyak dunia.

Penutupan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah global hingga lebih dari 55 persen sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, bahkan sempat menyentuh angka hampir 120 dolar AS per barel.

Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi India yang masih mengimpor sekitar 89 persen kebutuhan minyak mentahnya. Meski pasokan bensin dan solar relatif aman karena sebagian diperoleh dari Rusia, ketergantungan pada LPG yang mencapai 60 persen melalui jalur laut membuat distribusinya terganggu.

Di sisi lain, India terus mempercepat pengembangan energi terbarukan. Sepanjang tahun fiskal 2025-2026, negara tersebut mencatat penambahan kapasitas energi bersih sebesar 55 gigawatt, yang berasal dari tenaga surya dan angin.

Saat ini, lebih dari 50 persen kapasitas listrik India diklaim berasal dari sumber energi bersih. Meski demikian, Joshi mengakui kapasitas terpasang tidak selalu berbanding lurus dengan produksi listrik aktual.

Ia menekankan, untuk mencapai target menjadi negara maju pada 2047, India membutuhkan lonjakan besar dalam kapasitas energi, bukan sekadar peningkatan bertahap.

"Kita membutuhkan hampir 2.000 gigawatt tambahan dalam 20 tahun ke depan. Ini bukan pertumbuhan biasa, tapi lompatan besar," tegasnya.

Pemerintah India pun mulai menerapkan kebijakan lelang energi yang mewajibkan pengembang menjamin pasokan listrik selama 24 jam penuh, tidak hanya bergantung pada kondisi alam seperti sinar matahari atau angin.

Sementara itu, Sagar Adani, pimpinan salah satu perusahaan energi terbesar di India, menilai elektrifikasi adalah langkah paling realistis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kita sudah melihat bagaimana perang di satu tempat bisa mengacaukan rantai pasok global. Guncangan harga energi juga bisa merusak ekonomi dalam waktu singkat," ujarnya.

Meski energi terbarukan menjadi fokus utama, Adani mengingatkan sumber energi tersebut belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasional.

Karena itu, ia mendorong pendekatan energi campuran dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersedia, termasuk tenaga air, uap, hingga nuklir.

Editor: Santi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.