MALANG (Lentera) - Komunitas 21 Hari Vegan di Kota Malang mulai menggencarkan edukasi gizi seimbang berbasis nabati, dengan menyasar masyarakat hingga level akar rumput.
Salah satu langkah yang dilakukan, adalah memberikan pemahaman kepada kader posyandu di Kelurahan Rampal Celaket pada Selasa (28/4/2026).
"Program ini bertujuan menciptakan ruang yang suportif bagi siapa pun yang ingin memulai perubahan, sekecil apa pun langkahnya," ujar Outreach Coordinator Komunitas 21 Hari Vegan, Oktariani.
Dijelaskannya, program tersebut dijalankan melalui 2 pendekatan utama. Pertama, tantangan pola makan berbasis nabati mingguan bagi individu. Kedua, menjalin kemitraan dengan berbagai institusi untuk memperluas akses terhadap makanan nabati yang sehat dan terjangkau.
Dalam implementasinya, peserta yang bergabung akan mendapatkan pendampingan melalui grup WhatsApp yang dibuka setiap minggu. Di dalamnya, peserta memperoleh konten harian berupa resep berbahan lokal, informasi nutrisi, hingga panduan praktis yang didampingi mentor.
Pemilihan kader posyandu sebagai sasaran juga dinilai strategis. Sebab, kata Okta, kader memiliki kedekatan langsung dengan ibu rumah tangga, yang berperan penting dalam menentukan pola konsumsi keluarga.
Melalui edukasi yang menyasar kader posyandu ini, diharapkannya informasi terkait pola makan sehat dapat menjangkau masyarakat lebih luas. Terlebih, peran keluarga dinilai menjadi kunci dalam membentuk kebiasaan konsumsi yang berdampak jangka panjang terhadap kesehatan.
Sementara itu, Dokter Umum Bersertifikasi Gizi Nabati, dr. Rochelle Vernique Siem mengungkapkan, pentingnya pemahaman yang tepat sebelum menerapkan pola makan vegan, terutama pada anak-anak. Menurutnya, pola makan berbasis nabati dapat diterapkan sejak dini, tetapi harus dalam pengawasan dokter yang memahami nutrisi.
Ia juga menaruh perhatian pada konsep "plant forward" atau pola makan yang didominasi sumber nabati tanpa harus sepenuhnya vegan. Pendekatan ini dinilai lebih realistis diterapkan di masyarakat.
"Kalau asal diterapkan tanpa pemahaman, berisiko kekurangan zat besi, kalsium, atau protein. Tetapi kalau diawasi, sebenarnya aman," jelasnya.
Lebih lanjut, Rochelle mengingatkan, tren penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, jantung koroner, hingga kanker kini semakin meningkat, seiring maraknya konsumsi makanan ultra proses.
Ditambahkannya, konsumsi berlebihan makanan hewani juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis. Karena itu, masyarakat didorong mulai bertransisi ke makanan utuh (whole food) yang lebih alami, dengan tetap memperhatikan kecukupan nutrisi seperti kalsium dan vitamin B12.
Di sisi lain, perubahan pola makan, khususnya pada anak, tidak dapat dilakukan secara instan. Orang tua perlu pendekatan bertahap dan kreatif agar anak dapat menerima makanan yang lebih sehat.
Senada dengan itu, Chef Nova Swandara Putra menilai, masih banyak masyarakat yang terbatas pada olahan nabati sederhana seperti tahu dan tempe. Padahal, variasi bahan nabati sangat beragam dan dapat diolah menjadi menu menarik.
"Banyak alternatif seperti jamur, sayuran hijau, hingga kacang-kacangan yang bisa dikreasikan menjadi berbagai menu," ujarnya.
Ia juga membagikan tips praktis bagi ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan waktu, seperti membuat sandwich dengan isian sayur atau protein nabati, serta minuman sehat berbasis buah dan sayuran.
Untuk anak-anak yang enggan mengonsumsi sayur, Nova menyarankan modifikasi menu, seperti membuat nugget berbahan dasar tempe, tahu, dan kacang-kacangan dengan tambahan bumbu yang disesuaikan.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
