23 April 2026

Get In Touch

Ikan Sapu-Sapu Disebut Hama, Kenapa?

Ikan Sapu-Sapu Disebut Hama, Kenapa?

SURABAYA ( LENTERA ) - Fenomena meningkatnya perhatian publik terhadap ikan sapu-sapu tidak dapat dilepaskan dari viralitas di media sosial hingga respons kebijakan pemerintah daerah. Di Sungai Ciliwung dan sejumlah perairan lain di Jakarta, spesies ini bahkan menjadi target operasi pembasmian massal. Ikan sapu-sapu, yang secara ilmiah dikenal sebagai Pterygoplichthys pardalis dan Pterygoplichthys disjunctivus, merupakan ikan introduksi dari Sungai Amazon yang masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias sebelum menyebar luas ke perairan umum.

Dalam konteks ekologi dan kesehatan lingkungan, keberadaan ikan ini tidak hanya merepresentasikan invasi biologis, tetapi juga menjadi indikator kuat degradasi kualitas perairan. Berbagai studi ilmiah menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu liar, terutama yang hidup di wilayah tercemar, tidak layak untuk dikonsumsi.

Adaptasi Ekologis dan Paparan Polutan

Sebagai organisme bentik atau bottom feeder, ikan sapu-sapu mengonsumsi detritus, alga, serta sedimen di dasar sungai—kompartemen yang umumnya menjadi tempat akumulasi limbah industri dan domestik. Kemampuan fisiologisnya untuk bertahan pada kondisi kadar oksigen rendah (hipoksia) membuatnya mampu hidup di perairan yang telah mengalami penurunan kualitas lingkungan, termasuk sungai-sungai di kawasan urban.

Namun, adaptasi ini membawa konsekuensi biologis. Sedimen yang dikonsumsi mengandung berbagai zat berbahaya, sehingga tubuh ikan sapu-sapu menyerap dan menyimpan polutan tersebut dalam jaringan tubuhnya.

Kandungan Logam Berat dan Bukti Empiris

Penelitian yang dilakukan oleh Laksmi Nurul Ismi dkk. dalam Jurnal Al-Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi (2019) mengidentifikasi kandungan logam berat dalam ikan sapu-sapu dari kawasan MT. Haryono, Ciliwung. Analisis menggunakan metode X-Ray Fluorescence (XRF) menunjukkan keberadaan arsen (As), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan timbal (Pb) dalam konsentrasi yang melampaui ambang batas maksimum yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Temuan ini diperkuat oleh penelitian Dewi Elfidasari dkk. (2023) yang dipublikasikan melalui National Library of Medicine. Studi tersebut menunjukkan adanya hubungan antara paparan logam berat dengan sistem biologis ikan, termasuk adaptasi mikrobiota usus yang memungkinkan ikan bertahan di lingkungan tercemar.

Variasi kandungan logam berat juga dipengaruhi oleh lokasi geografis. Studi di wilayah hulu (Bogor–Depok–Jakarta) sempat menunjukkan kadar yang lebih rendah, tetapi penelitian di wilayah hilir Jakarta dengan tingkat pencemaran lebih tinggi secara konsisten menemukan kadar logam berat yang lebih besar, terutama timbal, kadmium, merkuri, dan arsen.

Pernyataan Pramono Anung menguatkan temuan tersebut. Ia menyebutkan bahwa kadar residu logam berat pada ikan sapu-sapu rata-rata telah melampaui angka 0,3, yang dinilai berbahaya bagi kesehatan manusia.

Bioakumulasi dan Ketahanan terhadap Proses Memasak

Secara kimia, logam berat bersifat non-biodegradable dan memiliki karakter bioakumulatif. Artinya, zat tersebut tidak dapat diuraikan melalui proses biologis maupun dihancurkan oleh panas. Oleh karena itu, pengolahan makanan seperti menggoreng atau merebus tidak menghilangkan kandungan logam berat dalam ikan sapu-sapu.

Konsumsi jangka panjang ikan yang terkontaminasi logam berat berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius, antara lain gangguan sistem saraf, kerusakan ginjal, serta peningkatan risiko kanker. Kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap paparan ini.

Dinamika Populasi dan Status Invasif

Dari perspektif ekologi, ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang telah diklasifikasikan dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020. Spesies ini memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Menurut pakar perikanan dari IPB University, satu ekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dalam satu siklus reproduksi dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.

Tingkat kelangsungan hidup larva yang mencapai lebih dari 90 persen semakin mempercepat pertumbuhan populasi. Perilaku ikan jantan yang menjaga telur di dalam liang hingga menetas meningkatkan keberhasilan reproduksi. Di sisi lain, ketiadaan predator alami di perairan Indonesia menyebabkan populasi ikan ini berkembang tanpa kontrol.

Dampak Ekologis terhadap Ekosistem Perairan

Sebagai spesies invasif, ikan sapu-sapu memberikan tekanan signifikan terhadap ekosistem lokal. Ikan ini diketahui memangsa telur dan larva ikan asli, sehingga menghambat regenerasi spesies endemik. Selain itu, dominasi dalam memanfaatkan sumber makanan menyebabkan terganggunya keseimbangan rantai makanan.

Dampak fisik juga terjadi pada lingkungan sungai. Kebiasaan ikan sapu-sapu menggali liang di bantaran sungai untuk tempat berkembang biak dapat menyebabkan erosi, meningkatkan kekeruhan air, serta mempercepat pendangkalan. Dalam konteks perkotaan, kondisi ini berpotensi memperburuk risiko banjir dan merusak infrastruktur sungai.

Selain itu, keberadaan ikan ini juga berdampak pada sektor perikanan. Di beberapa wilayah seperti danau di Sulawesi, nelayan menganggapnya sebagai hama karena tubuhnya yang keras dan sirip tajam kerap merusak jaring atau alat tangkap, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi.

Pemanfaatan dan Risiko Tidak Langsung

Meskipun dalam kondisi tertentu ledakan populasi ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein, hal ini tidak berlaku untuk ikan sapu-sapu liar dari perairan tercemar. Laporan otoritas perikanan menunjukkan bahwa kandungan residu logam berat dalam ikan ini sering kali melebihi batas aman.

Sejumlah pakar merekomendasikan agar ikan sapu-sapu tidak digunakan sebagai bahan pangan, melainkan dialihkan untuk kebutuhan non-konsumsi seperti pupuk organik atau pakan hewan. Namun, pendekatan ini tetap memerlukan pengawasan ketat untuk mencegah masuknya kembali logam berat ke dalam rantai makanan secara tidak langsung.

Ikan sapu-sapu merupakan contoh nyata interaksi antara pencemaran lingkungan, invasi spesies, dan risiko kesehatan manusia. Kemampuannya bertahan di perairan tercemar membuatnya berfungsi sebagai bioakumulator logam berat, sementara karakter reproduksinya mempercepat dominasi dalam ekosistem.

Dengan kandungan logam berat yang melampaui ambang batas, sifat bioakumulatif yang tidak dapat dihilangkan melalui proses memasak, serta dampak ekologis yang luas, ikan sapu-sapu dari perairan tercemar tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi. (ist/dya)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.