07 April 2026

Get In Touch

Harga Plastik Naik hingga 60 Persen Berdampak pada Pelaku Usaha di Kota Surabaya

Dinkopumdag melakulan monitoring rutin harga dan ketersediaan barang di pasar.
Dinkopumdag melakulan monitoring rutin harga dan ketersediaan barang di pasar.

SURABAYA (Lentera)- Kenaikan harga plastik global yang mencapai 30 hingga 60 persen mulai berdampak pada biaya produksi pelaku usaha di Kota Surabaya. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya pun bergerak cepat dengan memperkuat monitoring pasar serta pendampingan UMKM guna menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan usaha.

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengatakan lonjakan harga plastik dipicu oleh faktor global, terutama pasokan bahan baku dan harga energi dunia.

“Memang kenaikan harga plastik cukup signifikan, sekitar 30 sampai 60 persen. Ini dipengaruhi pasokan global dan harga energi yang tidak bisa kita hindari,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Sebagai langkah antisipasi, Pemkot melakukan pemantauan rutin harga dan ketersediaan barang di pasar. Selain itu, pendampingan langsung juga diberikan kepada pelaku UMKM untuk menekan dampak kenaikan biaya produksi.

“Monitoring harga dan ketersediaan terus kami lakukan, sekaligus pendampingan kepada UMKM di lapangan,” katanya.

Menurut Mia, kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha karena berdampak langsung pada biaya kemasan. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual produk di tingkat konsumen.

Dinkopumdag mendorong UMKM melakukan inovasi, terutama dengan beralih ke kemasan alternatif non-plastik yang lebih efisien dan ramah lingkungan. “Kami dorong inovasi kemasan, tidak lagi bergantung pada plastik, tetapi menggunakan bahan lain yang bisa menekan biaya produksi,” jelasnya.

Selain inovasi kemasan, perubahan pola penjualan juga menjadi opsi solusi jangka pendek. Pelaku usaha didorong menjual produk dalam jumlah lebih besar guna mengurangi penggunaan kemasan kecil berbahan plastik.

“Penjualan tidak harus dikemas kecil-kecil. Ini bisa mengurangi penggunaan plastik,” imbuh Mia.

Dari hasil pemantauan di lapangan, Dinkopumdag menemukan adanya kenaikan harga plastik di sejumlah toko dan pasar. Meski demikian, keluhan dari pelaku usaha masih relatif terbatas. “Keluhan belum banyak, tapi kami tetap antisipasi karena perkembangan ke depan belum bisa diprediksi,” ujarnya.

Untuk menekan harga di tingkat pelaku usaha, Pemkot Surabaya juga menjalin komunikasi dengan distributor agar rantai pasok lebih pendek dan harga lebih kompetitif.

“Kami hubungkan distributor dengan pedagang atau UMKM agar rantai pasok tidak terlalu panjang,” kata Mia.

Ke depan, Pemkot Surabaya memastikan pendampingan terhadap UMKM akan terus diperkuat agar pelaku usaha tetap mampu berproduksi di tengah tekanan biaya. Langkah ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga sekaligus daya beli masyarakat. 

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.