06 April 2026

Get In Touch

Harga Kedelai Naik, Produsen Tempe Sanan Siasati dengan Perkecil Ukuran

Sentra industri tempe dan keripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur (Kompas)
Sentra industri tempe dan keripik tempe Sanan, Malang, Jawa Timur (Kompas)

MALANG (Lentera) -Kenaikan harga kedelai dirasakan pelaku industri tempe di kawasan Sanan, Kota Malang. Demi menjaga keberlangsungan produksi, mereka menyiasati lonjakan biaya bahan baku dengan memperkecil ukuran tempe yang dijual ke pasaran.

"Sebelumnya Rp9.800 per kilogram, sekarang jadi Rp10.600. Informasinya juga kemungkinan akan naik terus," ujar salah satu karyawan industri tempe Sanan, Afriantoro, Senin (6/4/2026).

Kenaikan harga tersebut sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Kondisi ini membuat pelaku usaha harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang kian tinggi.

Salah satunya dengan melakukan penyesuaian pada ukuran tempe yang diproduksi. "Untuk jumlah produksinya tetap, cuma ukurannya dikurangi sekitar 1 centimeter lebih kecil dari biasanya. Tebalnya juga dikurangi," jelasnya.

Langkah ini, kata Afrian, diambil sebagai strategi agar kenaikan harga kedelai tidak berdampak langsung pada penurunan pendapatan karyawan. "Belum juga biaya untuk gasnya," ungkapnya. 

Afrian menyebut, kebijakan pengurangan ukuran tempe ini tidak menuai protes dari pelanggan. Hal ini lantaran produsen telah lebih dulu memberikan penjelasan terkait kondisi kenaikan harga kedelai.

"Tidak ada komplain, karena pelanggan sudah diberi tahu kalau harga kedelai naik, jadi ukurannya dikurangi," katanya.

Lebih lanjut, Afrian menjelaskan, harga kedelai saat ini tergolong tinggi jika dibandingkan kondisi normal sebelumnya. Bahkan menurutnya, harga Rp10 ribu per kilogram sudah termasuk kategori mahal sebelum terjadi konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi pasar global.

"Normalnya, Rp10 ribu itu sudah paling mahal, sebelum ada konflik di Timur Tengah," ungkapnya.

Dalam operasional sehari-hari, kebutuhan kedelai untuk produksi tempe di tempatnya berkisar antara 5 hingga 7 kuintal per hari, tergantung permintaan pasar.

Pasokan kedelai sendiri diperoleh dari koperasi yang menaungi para pelaku usaha tempe di kawasan tersebut. Sistem ini dinilai membantu menjaga ketersediaan bahan baku meskipun harga sedang bergejolak.

Sebagai informasi, melansir dari laman Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Disperindag Jawa Timur, berdasarkan data yang dimuat pada Senin (6/4/2026) pukul 15.30 WIB, harga kedelai impor dan lokal di pasar tradisional Kota Malang masing-masing berada di kisaran Rp15.666 dan Rp13.666 per kilogramnya. 

Reporter:Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.