04 April 2026

Get In Touch

Empat Bulan Pasca Bencana, 220 Siswa Nagan Raya Masih Belajar di Tenda Darurat

Murid SD korban bencana alam banjir bandang masih belajar di sekolah darurat, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. (foto:ist/Ant)
Murid SD korban bencana alam banjir bandang masih belajar di sekolah darurat, Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya. (foto:ist/Ant)

ACEH (Lentera) - Empat bulan pasca bencana banjir yang melanda Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sebanyak 220 siswa SD-SMP masih harus menjalani aktivitas belajar mengajar di dalam tenda darurat.

Kondisi ini terjadi di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, di mana fasilitas pendidikan permanen belum dapat difungsikan akibat kerusakan parah yang ditimbulkan bencana.

"Alhamdulillah, meski terdampak banjir, para siswa di Beutong Ateuh tetap bersekolah meski di bangunan darurat," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, melansir Antara, Jumat (3/4/2026).

Dirincinya, jumlah siswa yang terdampak terdiri dari 97 pelajar SMP Negeri Beutong Ateuh, mencakup 54 siswa laki-laki dan 43 siswa perempuan. Sementara itu, di SD Negeri 1 Beutong Ateuh Banggalang terdapat 123 siswa, terdiri dari 55 siswa laki-laki dan 68 siswa perempuan.

Menurut Zulkifli, pemerintah daerah bergerak cepat menyediakan fasilitas belajar darurat guna memastikan proses pendidikan tidak terhenti, meskipun gedung sekolah lama tidak lagi layak digunakan.

Langkah tersebut, lanjutnya, merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Nagan Raya, Teuku Raja Keumangan, yang menekankan pentingnya keberlanjutan pendidikan bagi seluruh siswa terdampak bencana.

"Bupati menegaskan, jangan sampai ada anak sekolah yang terhenti aktivitas belajarnya hanya karena kendala fasilitas gedung," ungkap Zulkifli. 

Saat ini, proses belajar mengajar telah berlangsung sejak hari pertama masuk sekolah sesuai kalender pendidikan yang ditetapkan pemerintah pusat, meskipun dilakukan di fasilitas darurat dengan segala keterbatasan.

Khusus untuk SMP Negeri Beutong Ateuh, menurutnya seluruh kegiatan belajar terpaksa dipindahkan ke lokasi lain. Karena bangunan sekolah mengalami kerusakan total dan tidak dapat digunakan sama sekali.

Pemerintah daerah pun berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) untuk memanfaatkan gedung milik dinas tersebut yang tidak terpakai sebagai ruang belajar sementara.

"Di SMP ini sudah tidak ada bangunannya, sehingga harus dipindahkan. Kami sudah mendapat izin penggunaan gedung dari Disperindagkop, dan alhamdulillah direspons dengan baik," jelas Zulkifli.

Dari sisi tenaga pengajar, disebutkannya, mayoritas guru yang mengajar di lokasi darurat merupakan putra-putri asli daerah setempat, sehingga memudahkan proses adaptasi baik bagi siswa maupun tenaga pendidik.

Selain menjalankan kurikulum reguler, para siswa juga mendapatkan pendampingan psikologis untuk membantu pemulihan pasca bencana. Program trauma healing dilakukan secara kolaboratif oleh mahasiswa dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

"Banyak pihak yang memberikan dukungan, termasuk program trauma healing. Alhamdulillah, kondisi anak-anak sudah mulai ceria kembali dan bisa beradaptasi dengan situasi yang ada," ungkapnya.

Editor:Santi,ist

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.