SURABAYA (Lentera) -Balai Pemuda Surabaya tetap terbuka bagi para seniman dan komunitas seni. Pemerintah hanya melakukan penataan regulasi penggunaan gedung tersebut agar pemanfaatannya lebih tertib dan memiliki dasar hukum yang jelas.
Sebelumnya, Pemkot melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) mengirimkan surat peringatan pertama bernomor 500.17/2390/436.7.16/2026 kepada empat pihak, termasuk Galeri Merah Putih, Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Bengkel Muda Surabaya, dan Kantin Yayuk terkait pengosongan ruang kesenian di Balai Pemuda Surabaya.
Pelaksana tugas (Plt) Disbudporapar Kota Surabaya, Herry Purwadi mengatakan surat tersebut bukan bertujuan untuk mengusir seniman dari Balai Pemuda. SE itu justru menjadi langkah awal untuk menata kembali penggunaan ruang seni agar lebih terorganisir dan memiliki aturan yang jelas.
“Memang saat ini perlu penataan regulasi yang jelas. Balai Pemuda tetap menjadi pusat pengembangan seni dan budaya, tetapi pemanfaatannya harus diatur dengan baik karena itu menjadi tanggung jawab pemerintah kota,” kata Herry, Selasa (31/3/2026).
Ia menegaskan, penataan ini dilakukan agar ada komunikasi dan kepastian hukum antara pemerintah dan para pengguna gedung. Menurutnya, penggunaan ruang di Balai Pemuda tidak selalu harus berbayar, tetapi tetap harus memiliki ikatan hukum yang jelas.
Herry juga menyebutkan Pemkot sebelumnya telah membuka forum komunikasi dengan para seniman melalui Musyawarah Kebudayaan yang digelar pada 14 Februari 2026 di Balai Pemuda.
Dalam forum tersebut, pemkot menampung berbagai masukan dari para seniman terkait pengembangan seni dan budaya di Surabaya.
Ia menambahkan, pemkot menghargai seluruh lembaga kesenian yang ada di Kota Pahlawan. Karena itu, pemerintah membuka ruang dialog agar solusi terbaik bisa ditemukan bersama.
“Kita harus berkomunikasi dengan baik, duduk bersama, berdialog, sehingga ada solusi. Tujuannya satu, untuk bersama-sama mengembangkan seni dan budaya di Kota Surabaya,” ujarnya.
Herry berharap ke depan Pemkot dan para seniman dapat terus bersinergi dalam memajukan seni budaya di Surabaya. Ia menegaskan bahwa peran seniman sangat penting dalam membangun kehidupan budaya kota.
“Tanpa adanya seniman, pemerintah bukan apa-apa. Karena itu kita harus terus berdiskusi dan menjaga komunikasi yang baik untuk mewujudkan pengembangan seni budaya di Surabaya,” pungkasnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)
