JAKARTA (Lentera)-Jepang dan Amerika Serikat (AS) mengumumkan 3 proyek bisnis baru dengan total nilai mencapai USD 73 miliar. Salah satu proyek utama yang disepakati adalah pembangunan reaktor nuklir modular kecil.
Mengutip Kyodo News, Sabtu (21/3/2026), kesepakatan ini merupakan bagian dari komitmen investasi Jepang senilai USD 550 miliar yang diumumkan tahun lalu, sebagai imbal balik atas pengurangan tarif perdagangan oleh AS.
Pengumuman tersebut disampaikan, Kamis (19/3/2026) usai pertemuan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Selain proyek nuklir, kerja sama juga mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga gas alam di Pennsylvania dan Texas.
Meski Mahkamah Agung (MA) AS membatalkan tarif dagang Trump, Jepang tetap melanjutkan komitmen dalam perjanjian dagang yang disepakati pada Juli tahun lalu.
Dalam kesepakatan itu, Jepang akan menyalurkan investasi, pinjaman, serta jaminan pinjaman hingga USD 550 miliar untuk proyek-proyek strategis di AS hingga akhir masa jabatan kedua Trump.
“Di tengah pertumbuhan pesat permintaan listrik global dan mengingat keadaan saat ini, termasuk situasi di Timur Tengah, kami percaya ini sangat penting,” kata Takaichi kepada wartawan setelah pertemuan tersebut, merujuk pada tiga proyek terbaru yang terkait dengan energi.
Pada pertengahan Februari lalu, kedua negara telah lebih dulu mengumumkan tiga proyek awal senilai hampir USD 36 miliar. Proyek tersebut meliputi pembangkit listrik tenaga gas di Ohio untuk memasok energi ke pusat data kecerdasan buatan, terminal ekspor minyak mentah lepas pantai di Texas, serta fasilitas produksi berlian sintetis di Georgia.
Dalam proyek terbaru, Jepang dan AS menyebut pembangunan reaktor modular kecil oleh GE Vernova Inc. dan Hitachi Ltd. di Tennessee dan Alabama dengan nilai hingga USD 40 miliar akan menjadi terobosan di sektor energi AS.
Proyek ini diharapkan menjadi sumber daya listrik stabil generasi berikutnya yang luar biasa, sekaligus membantu menjaga stabilitas harga listrik dan memperkuat daya saing teknologi kedua negara di tingkat global.
Selain sektor energi, Jepang dan AS juga sepakat memperkuat kerja sama di bidang mineral penting. Keduanya merilis lebih dari 10 inisiatif yang melibatkan perusahaan dari kedua negara.
Langkah ini dilakukan di tengah dominasi China dalam produksi logam tanah jarang yang krusial bagi ekonomi dan keamanan nasional. Jepang dan AS juga tengah menjajaki pembentukan kerangka perdagangan plurilateral guna menjaga ketahanan rantai pasok dari potensi gangguan.
"Amerika Serikat dan Jepang mengambil langkah penting untuk memperluas produksi dan keragaman mineral penting," kata Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer dalam sebuah pernyataan.
Kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat eksplorasi sumber daya mineral laut dalam. Salah satu fokusnya adalah proyek Jepang di sekitar Pulau Minamitori, yang baru-baru ini berhasil mengangkat lumpur kaya unsur tanah jarang dari kedalaman sekitar 5.600 meter di bawah laut.
Editor:Widyawati/kyd





.jpg)
