20 March 2026

Get In Touch

Dosen Unair: Perayaan Nyepi dan Idulfitri Beriringan Cerminkan Kekuatan Toleransi Indonesia

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. Listiyono Santoso.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. Listiyono Santoso.

SURABAYA (Lentera)- Perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri pada 2026 yang berlangsung berdekatan menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai toleransi antarumat beragama di Indonesia. Fenomena ini dinilai menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia telah terbiasa hidup berdampingan dalam keberagaman.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair), Dr. Listiyono Santoso, mengatakan perayaan hari besar agama yang berdekatan bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia sejak lama hidup dalam kondisi heterogen sehingga mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Adanya perayaan Nyepi dan Idulfitri yang berdekatan di Indonesia sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa. Masyarakat kita sejak awal terbiasa hidup dalam perbedaan dan mampu menjaganya dengan baik,” ujarnya, Kamis (19/3/2026).

Ia menjelaskan, toleransi bukan hanya sekadar menghormati perbedaan, tetapi juga memberikan ruang aman bagi pemeluk agama lain untuk menjalankan ibadah. Nilai tersebut, lanjutnya, sejalan dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar kehidupan berbangsa.

Listiyono menuturkan, kebebasan beragama dijamin oleh konstitusi. Karena itu, setiap umat beragama berhak menjalankan ibadahnya dengan aman tanpa gangguan dari pihak lain.

Selain itu, ia menilai praktik toleransi di Indonesia telah tumbuh secara alami sejak lama. Keberagaman suku, agama, dan budaya justru membentuk masyarakat yang terbiasa hidup berdampingan secara damai.

Listiyono juga mengingatkan generasi muda agar terus menjaga tradisi toleransi tersebut. Menurutnya, generasi muda, khususnya Gen Z, perlu lebih sering terlibat dalam kegiatan lintas agama agar nilai saling menghargai tetap terjaga di masa depan.

“Generasi muda harus siap hidup dalam ruang-ruang perbedaan. Kita adalah masyarakat yang heterogen, sehingga penting untuk terus membiasakan diri berinteraksi dengan berbagai latar belakang,” pungkasnya. (*))

 

Reporter: Amanah
Editor : Lutfiyu Handi

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.