GRESIK (Lentera) - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik berhasil menarik investasi hingga Rp106,3 triliun pada periode 2021-2025. Dengan nilai tersebut menjadikannya sebagai kawasan industri strategis nasional dalam mendorong hilirisasi dan memperkuat rantai pasok dalam negeri.
External Relation and Special Economic Zone Director KEK Gresik, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, mengatakan bahwa sebelum ditetapkan sebagai KEK, kawasan yang sebelumnya disebut sebagai Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) itu mencatat nilai investasi Rp5,2 triliun.
"Secara akumulatif, total investasi sebelum dan sesudah penetapan KEK mencapai Rp111,5 triliun," katanya dalam keterangan resmi di Gresik, Jawa Timur, Rabu (19/3/2026) melansir antara.
Dengan potensi yang dimilikinya, keberadaan KEK Gresik turut berdampak pada peningkatan kesejahteraan daerah dengan naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 77,30 pada 2021 menjadi 79,69 pada 2025, sementara tingkat pengangguran turun dari 8,00 persen menjadi 5,47 persen.
Selain itu, KEK Gresik juga menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, lingkungan, serta infrastruktur sosial.
“Program CSR kami dirancang untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar kawasan industri,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan kinerja KEK secara nasional terus menunjukkan tren positif dalam menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.
Sepanjang 2025, lanjutnya, realisasi investasi di 25 KEK mencapai Rp82,6 triliun atau 98 persen dari target, dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 88.541 orang.
“Hal ini menunjukkan KEK semakin efektif sebagai instrumen untuk mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di daerah,” katanya. (*)
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)
