05 March 2026

Get In Touch

Temuan Prasasti Jawab Teka-teki Masjid Agung Homs Berdiri di Atas Kuil Elagabalus

Temuan Prasasti Jawab Teka-teki Masjid Agung Homs Berdiri di Atas Kuil Elagabalus

SURABAYA ( LENTERA ) - Sebuah prasasti Yunani ditemukan di dasar kolam salah satu Masjid Agung di Kota Homs, Suriah, kembali memicu perdebatan panjang di kalangan sejarawan dan arkeolog. Temuan ini menghidupkan kembali pertanyaan lama apakah Masjid Agung Homs berdiri tepat di atas Kuil Dewa Matahari Elagabalus, situs sakral tempat seorang imam agung Suriah pernah naik takhta menjadi Kaisar Romawi pada abad ke-3 M?

Prasasti tersebut ditemukan pada 2016 saat proses restorasi masjid oleh tim ekskavasi setempat. Namun, publikasi luas mengenai temuan ini baru dilakukan beberapa waktu kemudian. Kepala Departemen Ekskavasi Homs, Teriz Lyoun, menjelaskan bahwa artefak itu terukir pada granit dasar kolom berukuran 1 x 1 meter, dengan teks Yunani sepanjang sekitar 75 sentimeter di bagian depan dan bingkai dekoratif selebar 25 sentimeter yang mengelilinginya. Susunan tulisannya rapi, simetris, dan formal seperti ciri khas prasasti dedikasi resmi pada masa kuno.

Kota Homs, yang pada era klasik dikenal sebagai Emesa, merupakan pusat penting pada masa Romawi dan dikenal sebagai ibu kota provinsi dengan nama yang sama. Selama ini, para peneliti meyakini bahwa Masjid Agung Homs dibangun di atas reruntuhan Gereja Santo Yohanes Pembaptis, yang sebelumnya diduga berdiri di atas kuil pagan Romawi. Namun, bukti arkeologis yang benar-benar meyakinkan belum pernah ditemukan hingga kemunculan prasasti ini.
Isi teks Yunani tersebut pertama kali diterjemahkan oleh sejarawan Abdulhadi Al-Najjar. Ia menyebutkan bahwa prasasti itu menggambarkan sosok

penguasa pejuang yang disamakan dengan angin, badai, dan macan tutul menggambarkan figur yang menaklukkan musuh serta memaksakan upeti dengan otoritas kerajaan yang kuat. Nuansa heroik dan militeristik dalam teks tersebut menguatkan dugaan bahwa prasasti itu berkaitan dengan kultus kekuasaan dan kemungkinan besar berhubungan dengan pemujaan dewa matahari.

Profesor Maamoun Saleh Abdulkarim dari Universitas Sharjah menilai temuan ini sebagai terobosan penting dalam perdebatan lokasi Kuil Elagabalus. Menurutnya, selama ini terdapat dua hipotesis utama,  kuil tersebut berada di bawah Masjid Agung Homs di pusat kota, atau terletak di lapisan arkeologis kawasan bukit tempat benteng Islam berdiri saat ini. “Prasasti Yunani ini memberi petunjuk baru mengenai kemungkinan keterkaitan masjid dengan bangunan pagan, khususnya Kuil Matahari,” ujarnya.

Nama Elagabalus merujuk pada dewa matahari Emesa sekaligus imam agungnya yang pada tahun 218 M naik tahta sebagai Kaisar Romawi. Setelah berkuasa, ia berupaya menjadikan dewa matahari Suriah sebagai dewa tertinggi Kekaisaran Romawi dan memperluas penyembahannya ke berbagai wilayah. Kebijakan religius yang radikal ini sempat mengguncang tatanan kepercayaan Romawi pada masanya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal arkeologi Shedet memetakan perkembangan religius Emesa dalam tiga fase besar, yaitu paganisme, Kekristenan, dan Islam. Transformasi tersebut dinilai berlangsung secara bertahap dan saling tumpang tindih, bukan melalui perubahan mendadak. Profesor Abdulkarim menjelaskan bahwa Kekristenan tidak serta-merta menggantikan paganisme, melainkan hidup berdampingan selama beberapa generasi sebelum akhirnya menjadi dominan pada abad ke-4 M.

Bagaimana perubahan itu terjadi? Menurut kajian tersebut, situs yang semula diduga sebagai kuil pagan perlahan beralih fungsi menjadi gereja setelah Kekristenan diterima luas, dan kemudian berubah menjadi masjid setelah penaklukan Islam. Proses ini mencerminkan dinamika sosial-politik yang kompleks di kawasan tersebut, di mana praktik keagamaan lama dan baru kemungkinan hidup berdampingan selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Dengan ditemukannya prasasti Yunani ini, perdebatan tentang lokasi pasti Kuil Elagabalus kembali menguat. Meski belum memberikan jawaban final, temuan tersebut dinilai membuka jalan bagi penelitian selanjutnya untuk menelusuri kesinambungan sejarah religius di Homs, sebuah kota sejak era kuno yang hingga kini menjadi saksi perubahan peradaban yang berlapis-lapis. (Inna – Mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.