18 February 2026

Get In Touch

Meski Tercemar, Ratusan Warga Gelar Tradisi Keramas Bersama di Sungai Cisadane

Menyambut bulan Ramadhan ratusan warga Babakan, Kota Tangerang mengikuti tradisi keramas bersama di aliran Sungai Cisadane, Selasa (17/2/2026) sore. (foto:ist/CNN Indonesia/Ant)
Menyambut bulan Ramadhan ratusan warga Babakan, Kota Tangerang mengikuti tradisi keramas bersama di aliran Sungai Cisadane, Selasa (17/2/2026) sore. (foto:ist/CNN Indonesia/Ant)

TANGERANG (Lentera) - Meskipun dinyatakan tercemar pestisida beberapa waktu lalu, ratusan warga Babakan, Kota Tangerang mengikuti tradisi keramas bersama di aliran Sungai Cisadane sebagai bagian dari penyambutan bulan suci Ramadan, Selasa (17/2/2026) sore.

Melansir CNN Indonesia, warga tampak antusias, mengikuti kegiatan yang telah berlangsung turun-temurun tersebut. Meski beberapa waktu lalu aliran Sungai Cisadane sempat tercemar limbah kimia, tradisi keramas bersama tetap digelar dengan penuh semangat dan suasana riang.

Masyarakat dari berbagai usia, mulai dari balita hingga orang dewasa, berkumpul di bantaran Sungai Cisadane untuk mengikuti tradisi tersebut. Selain keramas, sebagian warga juga menceburkan diri ke aliran sungai dengan pengawasan petugas yang bersiaga menggunakan perahu karet.

Salah satu warga, Titi mengatakan tradisi ini rutin dilaksanakan setiap menjelang Ramadan. Ia mengaku, tetap yakin mengikuti kegiatan tersebut karena air sungai disebut telah melalui pengujian.

"Ini sudah biasa, mandi dan keramas bersama jelang bulan puasa setiap tahun. Ada juga warga dari luar. Airnya juga sudah dites sebelum kegiatan," ujar Titi.

Sementara itu, Kepala Bidang Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang, Supendi mengatakan tradisi keramas bersama telah ditetapkan sebagai budaya tak benda milik Kota Tangerang.

Ia menyebut, hasil pengujian menunjukkan kualitas air Sungai Cisadane telah kembali dalam ambang normal.

"Hari ini menjadi momen bersejarah, khususnya bagi warga Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, dalam rangka tradisi keramas bersama menyambut bulan suci Ramadan," ujarnya.

"Terkait pencemaran sebelumnya, sudah ada penelitian dari PDAM dan kepolisian yang menyatakan tidak ada dampak negatif, namun ikan dari sungai masih tidak disarankan untuk dikonsumsi," kata Supendi.

Tradisi keramas bersama dinilai menjadi upaya menjaga warisan budaya turun-temurun sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga di wilayah tersebut.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.