13 February 2026

Get In Touch

Budi Waseso : Pramuka Akan Lahirkan Petani Milenial Dukung Ketahanan Pangan

Prosesi Pelantikan Pengurus Mabida, Pengurus Kwarda, dan Lembaga Pemeriksa Keuangan Kwartir Dearah Gerakan Pramuka Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (11/2/2026).
Prosesi Pelantikan Pengurus Mabida, Pengurus Kwarda, dan Lembaga Pemeriksa Keuangan Kwartir Dearah Gerakan Pramuka Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (11/2/2026).

SURABAYA (Lentera) - Gerakan Pramuka terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung program strategis nasional, termasuk dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Ketua Kwartir Nasional (Kakwarnas) Pramuka, Budi Waseso, menegaskan Pramuka akan menggerakan sektor pertanian dengan melahirkan petani-petani milenial untuk mendukung program ketahanan pangan.

"Sekarang kita sedang mewujudkan gerakan Pramuka selalu mendukung program-program pemerintah dalam hal apa saja termasuk pendidikan. Sekarang Pak Presiden kan ingin mewujudkan swasembada dan kemandirian pangan. Ini harus kita mulai dari generasi muda terutama di gerakan Pramuka," kata Budi setelah Pelantikan Pengurus Majelis Pembimbing Daerah (Mabida), Pengurus Kwartir Daerah (Kwarda), dan Lembaga Pemeriksa Keuangan Kwartir Dearah Gerakan Pramuka Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (11/2/2026).

Budi Waseso juga mengatakan bahwa saat ini dalam sektor pertanian sudah tidak ada petani yang muda. "Nah kita sekarang mau menciptakan petani milenial, kita edukasi di dalam kepramukaan dan memberikan pemahaman bahwa petani itu tidak hal yang negatif atau hal tidak menjanjikan," tandasnya.

Bahkan jika pertanian dikelola dengan baik, dan dengan mengikuti teknologi cara bertani yang benar, maka akan menghasilkan sesuatu yang bernilai dalam hal ini hasil pertanian yang bernilai tinggi. 
"Yang paling mendasar pangan bukan hanya soal beras, tetapi seluruh kebutuhan pangan bangsa. Ketahanan pangan juga menyangkut harga diri bangsa agar tidak bergantung pada negara lain,” ujarnya.

Indonesia sebagai negara agraris dengan tanah subur memiliki potensi besar untuk mandiri dalam produksi pangan. Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga lahan pertanian agar tidak terus beralih fungsi. Menurutnya, kecintaan terhadap dunia pertanian harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda agar mereka mau mempertahankan dan mengembangkan sektor ini.

Dalam implementasinya, Pramuka akan mendorong berbagai kegiatan pertanian berbasis potensi wilayah. Misalnya, di daerah yang cocok untuk jagung akan difokuskan pada jagung, sementara wilayah lain menyesuaikan komoditas unggulan masing-masing. Gerakan ini juga mencakup pembinaan pembibitan mandiri agar petani tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah.

Selain itu, Kakwarnas juga menyoroti pentingnya swasembada kedelai yang selama ini masih banyak diimpor. Ia mengungkapkan rencana mobilisasi gerakan penanaman kedelai secara nasional melalui jaringan Pramuka yang tersebar hingga tingkat desa. Kolaborasi dengan kelompok tani dan instansi pertanian setempat akan menjadi kunci keberhasilan program tersebut.

Dalam kesempatan itu Budi mengatakan bahwa Jawa Timur menjadi salah satu contoh keberhasilan pembinaan Pramuka yang konsisten. Berbagai kegiatan sosial dan pendidikan yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka di wilayah tersebut dinilai berhasil menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masyarakat. 

Ia juga menilai kesinambungan program Pramuka tetap terjaga karena dukungan kuat dari jajaran kepemimpinan daerah, termasuk Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Kamabida) yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan Pramuka.

Sementara itu, Ketua Kwartir Daerah (Kakwarda) Pramuka Jawa Timur, Aarum Sabil, menambahkan bahwa sinergi antara Pramuka dan berbagai pihak akan terus diperkuat untuk menghasilkan kontribusi optimal di bidang pangan, baik pertanian, peternakan, maupun perkebunan. Ia menekankan bahwa dunia pertanian tidak hanya melibatkan petani secara langsung, tetapi juga berbagai profesi pendukung seperti ahli teknologi pertanian, pakar tanah, pengendali hama, hingga pelaku industri pertanian.

Menurutnya, lulusan SMK pertanian, sekolah tinggi teknologi pertanian, serta akademisi terkait memiliki peran penting sebagai pendamping dan edukator bagi petani. Mereka bisa membantu transfer teknologi, inovasi, dan pengetahuan agar pertanian semakin maju dan produktif.

“Kalau mereka punya lahan, mereka bisa langsung mengelola. Kalau tidak, mereka tetap bagian dari ekosistem pertanian, menjadi pendamping dan penguat bagi petani di lapangan,” jelas Aarum.

Melalui kolaborasi tersebut, Gerakan Pramuka diharapkan tidak hanya membentuk karakter generasi muda, tetapi juga menjadi motor penggerak ketahanan pangan nasional. Upaya menumbuhkan petani milenial berbasis teknologi dan inovasi diyakini mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah stigma bahwa profesi petani identik dengan kemiskinan.

Dengan gerakan terpadu yang melibatkan generasi muda, akademisi, pemerintah, dan masyarakat, Pramuka optimistis dapat berperan sebagai benteng ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong terwujudnya kemandirian pangan Indonesia di masa depan. (*)


Reporter : Lutfi
Editor : Lutfiyu Handi


 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.