03 February 2026

Get In Touch

Harga Cabai hingga Telur Turun, Kota Malang Alami Deflasi di Januari 2026

Ilustrasi: Penjual bumbu dapur di Pasar Besar Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Penjual bumbu dapur di Pasar Besar Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Januari 2026 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,10 persen secara bulanan (month to month/mtm). Penurunan harga sejumlah bahan pangan seperti cabai, telur, dan daging ayam menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan harga di awal tahun ini.

"Cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras masing-masing menyumbang andil penurunan sebesar minus 0,07 persen. Disusul telur ayam ras minus 0,06 persen dan bawang merah minus 0,05 persen," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Febrina, Selasa (3/2/2026).

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Desember 2025 yang mencatat inflasi sebesar 0,56 persen (mtm). Meski mengalami deflasi bulanan, inflasi tahunan (year on year/yoy) Kota Malang masih berada di angka 3,33 persen.

Febrina menjelaskan, capaian tersebut menempatkan inflasi tahunan Kota Malang sedikit di atas Jawa Timur yang berada di angka 3,29 persen (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,55 persen (yoy).

Menurutnya, deflasi Januari terutama didorong oleh turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil deflasi sebesar 0,34 persen (mtm). 

Febrina mengatakan, turunnya harga daging dan telur ayam ras dipengaruhi oleh lancarnya pasokan di pasaran serta menurunnya permintaan masyarakat setelah momentum Natal dan Tahun Baru. 

Sementara untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah, harga turun karena pasokan melimpah saat musim panen raya di sentra produksi.

Meski demikian, deflasi yang terjadi di Kota Malang menurutnya tidak berlangsung lebih dalam karena tertahan oleh sejumlah komoditas yang justru mengalami kenaikan harga. Beberapa di antaranya adalah emas perhiasan, jeruk, kontrak rumah, bawang putih, dan apel.

"Ini akibat meningkatnya permintaan. Sedangkan harga bawang putih naik karena pada Januari belum terdapat realisasi impor dari negara produsen, padahal sekitar 90-95 persen kebutuhan bawang putih nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri," katanya. 

Kenaikan harga emas perhiasan juga disebut menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,22 persen (mtm), dipicu oleh terus naiknya harga emas dunia. 

Febrina menegaskan, secara umum tekanan inflasi Kota Malang pada Januari masih terkendali dalam rentang sasaran. Hal tersebut tidak lepas dari koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang terus diperkuat.

Menghadapi potensi kenaikan harga menjelang perayaan Imlek dan Ramadan yang jatuh pada bulan ini, Febrina mengaku akan meningkatkan intensitas pemantauan harga di lapangan bersama TPID. Bahkan, operasi pasar disiapkan sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.