SURABAYA (Lentera) - PT Pegadaian (Persero) telah merilis daftar harga emas untuk perdagangan hari ini Senin (2/2/2026). Rilis tersebut menunjukkan dua produk buatan Galeri24 dan UBS yang kompak tak mengalami perubahan harga jual.
Harga jual emas Galeri24 stabil di angka Rp2.981.000 per gram, begitu pula harga emas UBS turut tak mengalami perubahan yakni di angka Rp2.996.000 per gram.
Lantas bagaimana prediksi gerak harga emas, secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), emas masih bertahan di zona bullish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 54.
RSI di atas 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bullish. Namun RSI emas belum jauh dari 50 sehingga bisa dibilang cenderung netral.
Akan tetapi, indikator Stochastic RSI 14 hari sudah menyentuh 10. Di bawah 20, yang berarti sudah jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan hari ini, cermati pivot point di US$ 4.769/troy ons. Jika tertembus, maka harga emas bisa saja menguji support US$ 4,756-4.704/troy ons.
Target paling pesimistis atau support terjauh rasanya ada di US$ 4.486/troy ons.
Namun andai harga emas bisa bangkit, maka US$ 4,.804/troy ons bisa menjadi target resisten terdekat. Resisten berikutnya ada di kisaran US$ 4.825-4.839/troy ons.
Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah US$ 5.009/troy ons.
Menurut Christopher Wong dari Oversea-Chinese Banking Corp, fluktuasi harga emas membawa hikmah bahwa sesuatu yang mudah naik akan mudah pula untuk turun. Pencalonan Warsh memang menjadi pendorong, tetapi koreksi memang sulit terhindarkan.
“Itu (pencalonan Warsh) jadi alasan untuk membalik pergerakan harga,” tegas Wong, sebagaimana diwartakan Bloomberg News.
Ya, sebelum koreksi tajam dalam dua hari terakhir harga emas memang melambung tinggi. Bahkan sempat menembus level US$ 5.500/troy ons dalam perdagangan intraday pekan lalu.
Selama sebulan terakhir, harga emas masih membukukan kenaikan 7,72% secara point-to-point. Sepanjang tahun ini (year-to-date), harga masih menguat 10,88%.
Oleh karena itu, koreksi menjadi sebuah keniscayaan. Pasti akan datang saatnya konsolidasi, karena investor ‘gatal’ untuk mencairkan cuan. (*)
Editor : Lutfiyu Handi/berbagai sumber





.jpg)
