03 February 2026

Get In Touch

Kisah Mbah Kirno, Dikerangkeng 20 Puluh Tahun hingga Dievakuasi ke Lamongan

Kerangkeng tempat Mbah Kirno hidup selama 20 tahun, karena mengancam akan membunuh keluarganya. (foto:ist/Kompas.com)
Kerangkeng tempat Mbah Kirno hidup selama 20 tahun, karena mengancam akan membunuh keluarganya. (foto:ist/Kompas.com)

PONOROGO (Lentera) - Sebuah kerangkeng besi berukuran lebar setengah meter, tinggi satu meter, dan panjang dua meter masih tergeletak di belakang rumah Sarti, warga Desa Temon, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. 

Besi itu menjadi saksi bisu penderitaan, Mbah Kirno (60) selama 20 tahun sebelum akhirnya dievakuasi oleh Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan pemilik Yayasan Berkas Bersinar Abadi, untuk menjalani perawatan medis di Lamongan. 

Keponakan Mbah Kirno, Adi Prayitno (35), kini menaruh harapan besar pada proses penyembuhan pamannya. 

"Kita berharap yang terbaik, Mbah Kirno bisa sembuh dan beraktivitas seperti biasa," ujar Adi saat ditemui di rumahnya melansir Kompas.com, Minggu (31/1/2026). 

Siapa sangka, di balik jeruji besi itu, Mbah Kirno dahulunya adalah sosok yang dikagumi. Pada awal tahun 1980-an, ia dikenal sebagai seniman reog, karawitan, hingga MC pengantin yang memiliki suara merdu. 

"Kalau sudah memuji pengantin di acara pernikahan, semua orang mengaku kagum dengan suaranya yang merdu," kenang Adi. 

Namun, di sisi lain, Mbah Kirno juga dikenal sangat gemar mendalami ilmu kebatinan dan kanuragan. Ia sering melakukan lelaku puasa dan mendatangi guru-guru di berbagai daerah, seperti Malang dan Tulungagung demi mengejar ilmu tersebut. 

Kesehatan jiwanya mulai memburuk setelah ia bercerai dengan istrinya. Sejak saat itu, kebiasaan Mbah Kirno berubah drastis, termasuk tidak pernah tidur di malam hari. 

Tiga Keluarga sempat berupaya membawa Mbah Kirno berobat ke Trenggalek, pada awal tahun 2000-an. Namun, sepulang dari sana, kondisi Mbah Kirno justru semakin parah dan mulai mengancam akan membunuh anggota keluarga, termasuk ayah Adi yang pernah diajak berkelahi di sawah. 

Karena sering mengamuk dan membahayakan nyawa, pada tahun 2006 keluarga terpaksa memasukkan Mbah Kirno ke dalam kerangkeng besi. Uniknya, kerangkeng tersebut diberi ganjal kayu agar tidak menyentuh tanah atas saran "orang pintar". 

"Saran orang pintar tidak boleh menyentuh tanah agar kekuatannya berkurang. Kalau bagi kami, itu agar lebih mudah membersihkan bekas buang air besar," jelas Adi. 

Saking kuatnya, Mbah Kirno dikabarkan sering merusak sambungan las besi dengan piring, bahkan sempat memakan besi yang berhasil dicongkelnya. Hal inilah yang membuat keluarga memberikan lapisan jeruji besi hingga tiga lapis. 

Sementara itu, Kepala Desa Temon, Suwata mengakui pihaknya telah berupaya memberikan bantuan melalui Dana Desa dan mencoba membuatkan KTP, agar Mbah Kirno bisa mendapatkan layanan medis gratis. 

Namun, kendala di lapangan sering terjadi, termasuk ketakutan tenaga kesehatan saat hendak menyuntik pasien. 

Kini, melalui tangan Ipda Purnomo, Mbah Kirno mulai menunjukkan perkembangan positif. Dalam video di akun Instagram @purnomopolisibaik, Mbah Kirno terlihat sudah bisa diajak berolahraga, menghafal surat pendek, hingga melaksanakan shalat Jumat berjamaah. 

"Kayaknya dia memang belajar ilmu. Tapi jangan sampai gara-gara punya ilmu, dia dipasung. Dia harus mendapatkan pengobatan medis dan rukyah, serta perhatian anak-anaknya," tutur Purnomo dalam unggahannya.

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.