03 February 2026

Get In Touch

Pulau Seluas Setengah Lapangan Sepak Bola ini Jadi Tempat Terpadat di Dunia

Pulau Migingo di perbatasan Kenya dan Uganda yang memiliki seluas 2.000 persegi ini dihuni sekitar 500 jiwa.
Pulau Migingo di perbatasan Kenya dan Uganda yang memiliki seluas 2.000 persegi ini dihuni sekitar 500 jiwa.

SURABAYA (Lentera) - Sebuah pulau yang hanya seluas setengah lapangan bola dinobatkan sebagai salah satu tempat dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia. Pulau Migingo di perbatasan Kenya dan Uganda yang memiliki seluas 2.000 persegi ini dihuni sekitar 500 jiwa.

Pulau Migingo perupakan pulau karang kecil di tengah Danau Victoria. Menurut peneliti senior dari Institute for Security Studies Emmanuel Kisiangani, Migingo dulunya hanya sebuah batu terjal yang menonjol keluar permukaan air. Karang itu mulai menjadi daratan kecil setelah Danau Victoria berangsur surut pada 1990-an.

Migingo berdiri tepat di atas perairan yang kaya sumber daya perikanan, terutama ikan Nil. Namun, nelayan di Afrika Timur dahulu pernah bergelut dengan minimnya hasil tangkapan ikan buntut penangkapan ikan berlebihan serta invasi eceng gondok melansir cnnindonesia.

Ketika menelusuri area Migingo dan menemukan ikan Nil berlimpah, para nelayan mulai bermukim di pulau tersebut. Wajah Migingo pun kini berubah. Batuan keras itu telah tertutup rapat oleh gubuk-gubuk seng yang dibangun berdesakan.

Migingo tidak hanya dijadikan sebagai rumah tinggal, tetapi juga dipaksa menampung berbagai aktivitas sosial dan ekonomi, mulai dari warung makan, pelabuhan, bar, rumah bordil, hingga kasino.

Meski berukuran sangat kecil, Migingo menjadi pemicu ketegangan politik yang panjang. Kenya dan Uganda sama-sama mengeklaim pulau tersebut sebagai wilayah kedaulatan mereka.

Kedua negara kerap bersitegang karena memperebutkan hak atas daratan dan perairan Migingo. Kenya dan Uganda juga menerapkan kebijakan hukum masing-masing di pulau itu hingga membuat warga setempat menderita.

Pada 2016, sebuah komite bersama dibentuk untuk menyelesaikan masalah perbatasan ini. Namun, upaya tersebut menemui jalan buntu karena kedua belah pihak merujuk pada peta era kolonial tahun 1920-an yang penafsirannya berbeda-beda.

"Secara fungsional, pulau ini sebenarnya adalah tanah tak bertuan," ungkap Eddison Ouma, seorang nelayan asal Uganda.

Sengketa batas wilayah ini akhirnya memicu julukan bagi konflik Migingo yakni "perang terkecil di Afrika". (*)

Editor : Lutfiyu Handi
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.