03 February 2026

Get In Touch

Minyak Zaitun untuk Wajah? Ini Penjelasan Dokter Kulit

Minyak Zaitun untuk Wajah? Ini Penjelasan Dokter Kulit

SURABAYA ( LENTERA ) - Minyak zaitun kerap digunakan sebagai bahan alami serbaguna, termasuk untuk perawatan wajah. Sejak zaman Cleopatra, minyak ini dipercaya mampu membantu menjaga kecantikan kulit. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan,apakah minyak zaitun benar-benar aman dan bermanfaat untuk kulit wajah, atau justru berisiko menimbulkan masalah kulit?

Para ahli dermatologi menyebut bahwa minyak zaitun memang memiliki manfaat tertentu, tetapi tidak cocok untuk semua jenis kulit. Berijut beberapa manfaatnya:

Melembapkan kulit kering
Minyak zaitun dapat membantu melembapkan kulit yang kering. Dokter kulit bersertifikat sekaligus direktur medis Pure Dermatology Cosmetic and Hair Center, Neda Mehr, MD, menjelaskan bahwa kesehatan kulit sangat bergantung pada lapisan lipid yang merekatkan sel-sel kulit.

“Saat cuaca dingin atau sering berada di ruangan ber-AC, lapisan ini bisa rusak sehingga kulit menjadi kering dan pecah-pecah,” ujar Mehr, dikutip dari Real Simple.

Kandungan asam lemak tak jenuh tunggal dan antioksidan dalam minyak zaitun membuatnya berfungsi sebagai emolien yang membantu mengunci kelembapan, terutama bila diaplikasikan pada kulit yang masih lembap.
Karena itu, minyak zaitun lebih cocok digunakan oleh pemilik kulit kering atau kulit dengan skin barrier yang sedang terganggu.

Membantu penyembuhan kulit dan menjaga elastisitas

Minyak zaitun mengandung antioksidan dan sifat anti-inflamasi. Kandungan triterpenes di dalamnya diketahui dapat membantu proses penyembuhan luka ringan, mendukung produksi kolagen, serta mempercepat regenerasi jaringan kulit.

Dalam perawatan wajah, minyak zaitun dapat membantu menenangkan kulit yang mengalami iritasi ringan atau kekeringan parah, selama tidak digunakan pada kulit berjerawat. Kandungan vitamin dan lemak sehatnya juga kerap dikaitkan dengan efek anti-aging, meski manfaat tersebut dinilai lebih optimal jika minyak zaitun dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan hanya digunakan secara topikal.

Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kulit agar tidak menimbulkan efek samping. Sebab ada dampak tidak baiknya juga.

Menyumbat pori-pori dan memicu jerawat

Minyak zaitun memiliki tekstur berat dan bersifat komedogenik, sehingga berpotensi menyumbat pori-pori. Mehr menegaskan bahwa minyak zaitun bukan pilihan tepat untuk kulit berminyak atau rentan jerawat.

“Untuk kondisi kulit dengan produksi minyak berlebih, seperti jerawat, minyak zaitun bisa menjadi salah satu produk terburuk karena dapat menyumbat pori-pori dan memicu jerawat parah,” ujarnya.

Tidak aman digunakan sebelum terpapar sinar matahari

Penggunaan minyak zaitun sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari juga tidak dianjurkan. Meski dapat menenangkan kulit setelah terpapar matahari, minyak zaitun tidak memiliki perlindungan UV.

“Minyak zaitun yang diaplikasikan di pagi hari tanpa sunscreen atau perlindungan pakaian dapat meningkatkan risiko sunburn dan kerusakan kulit,” kata Mehr.

Tidak mudah diserap kulit

Estetikawan sekaligus pemilik Anna Babayan Skincare di Boston, Anna Babayan, menyebut minyak zaitun bukan pilihan ideal untuk skincare harian.

“Kulit tidak memiliki enzim yang mampu memecah molekul minyak zaitun agar manfaatnya bisa diserap secara optimal,” ujarnya.

Namun, sifat minyak zaitun yang bertahan di permukaan kulit justru dapat bermanfaat pada kondisi tertentu. Mehr menyebut minyak ini bisa membantu pasien dengan dermatitis atopik atau peradangan kulit dengan cara mengurangi penguapan air dan memperkuat lapisan pelindung kulit.

Siapa yang Tepat Memakainya?

Minyak zaitun tidak cocok untuk semua jenis kulit. Penggunaannya lebih disarankan bagi pemilik kulit sangat kering, kulit dengan skin barrier rusak, atau penderita peradangan kulit, dan itupun hanya sebagai pelindung tambahan, bukan skincare utama.

Sebaliknya, bagi pemilik kulit berminyak, rentan jerawat, atau sering terpapar matahari, minyak zaitun justru berpotensi menimbulkan lebih banyak masalah dibandingkan manfaat. (Itqiyah – UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)


 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.