LAMONGAN (Lentera) - Pemerintah Kabupaten Lamongan menetapkan status tanggap darurat bencana banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero, setelah genangan meluas ke 28 desa dengan 10.672 jiwa terdampak.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan, Moh. Nalikan mengatakan status tersebut ditetapkan seiring meningkatnya tinggi muka air di Bendungan Blawi, yang mencapai 78 centimeter pada papan duga.
“Status tanggap darurat kami berlakukan karena kenaikan tinggi muka air Bendungan Blawi dan menggenangi puluhan desa di enam kecamatan. Kami memerlukan penanganan terpadu lintas sektor,” katanya di Lamongan mengutip Antara, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data terbaru, banjir tercatat merendam 2.736 rumah di sejumlah desa kawasan Bengawan Jero dan mengganggu aktivitas warga serta fasilitas umum.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah melakukan penyisiran dan pembersihan sungai serta pengoptimalan pompa untuk memperlancar aliran air, serta menginstruksikan setiap desa terdampak mendirikan posko kesehatan yang siaga selama 24 jam.
“Posko kesehatan wajib dibentuk oleh puskesmas, maupun bidan desa agar pelayanan kesehatan warga terdampak tetap berjalan,” jelasnya.
Nalikan menambahkan, Pemkab Lamongan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok secara bertahap dan mengajukan pencairan 22 ton beras cadangan pangan ke Badan Ketahanan Pangan Nasional melalui Bulog.
"Kami juga mengarahkan sekolah yang terdampak banjir agar melaksanakan pembelajaran secara daring dan menyiagakan armada truk untuk membantu mobilitas warga, khususnya pelajar saat melintasi wilayah yang masih tergenang," tambahnya.
Editor: Arief Sukaputra





.jpg)
