MALANG (Lentera) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengakui produksi panen padi di wilayahnya mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir, sejumlah faktor menjadi penyebab kondisi tersebut mulai dari cuaca ekstrem hingga persoalan teknis di sektor pertanian.
"Cuaca cukup menjadi kendala, ya. Perubahan pola hujan dan cuaca ekstrem cukup memengaruhi hasil panen padi petani dalam beberapa tahun terakhir," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna Medisica Saniputera, Rabu (14/1/2026).
Dikatakannya, berdasarkan data DTPHP, produksi padi di Kabupaten Malang pada tahun 2023 tercatat sekitar 488 ribu ton. Angka tersebut turun menjadi sekitar 403 ribu ton pada 2024. Sementara pada tahun 2025, produksi padi hingga periode Januari-November baru mencapai 362.048 ton.
Pria yang akrab dengan sapaan Avi, ini menuturkan persaingan dengan komoditas lain seperti jagung dan berbagai jenis tanaman hortikultura turut memengaruhi berkurangnya luas tanam padi di Kabupaten Malang.
Sejumlah petani, kata Avi, memilih beralih ke komoditas tersebut karena dinilai lebih adaptif terhadap kondisi cuaca serta memiliki nilai ekonomi yang lebih menjanjikan.
"Di sisi lain, masih terdapat jaringan irigasi yang rusak dan belum tertangani secara optimal," jelasnya.
Kendati demikian, Pemkab Malang menegaskan tidak tinggal diam menghadapi kondisi tersebut. Pada tahun 2026 ini, Avi menyebut pihaknya telah menargetkan produksi panen padi dapat kembali meningkat hingga mencapai 398.303 ton.
Menurutnya, untuk mencapai target tersebut, salah satu strategi utama yang disiapkan adalah intensifikasi pertanian melalui penggunaan bibit unggul berdaya hasil tinggi. "Salah satu varietas yang tengah dikembangkan saat ini adalah padi Sukma, yang memiliki potensi produktivitas hingga 14 ton per hektare " tuturnya.
Avi mengatakan, rata-rata produktivitas padi saat ini masih di kisaran 6-7 ton per hektare. Jika bisa ditingkatkan menjadi sekitar 10 ton per hektare, menurutnya potensi kenaikan produktivitas akan lebih dari 30 persen.
Avi juga menambahkan, varietas padi Sukma telah melalui uji multilokasi serta pengujian ketahanan terhadap hama. Setelah seluruh tahapan uji selesai, varietas tersebut diharapkan dapat segera dilepas dan dikembangkan secara luas di Kabupaten Malang.
Namun, ditegaskannya produktivitas harus dibarengi dengan penerapan standar budidaya yang tepat. Salah satunya melalui pengaturan jarak tanam antar bibit padi sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
"Pola jarak tanam yang dianjurkan antara lain 30-30-40 atau 40-30-30 sentimeter. Jadi antara padi yang ditanam pada baris pertama dan kedua, itu diberi jarak 30cm. Begitu pula dengan baris kedua dan ketiga. Sedangkan, baris ketiga dan keempat diberi jarak 40cm," jelas Avi.
Menurutnya, dengan menerapkan jarak tanam antar bibit padi tersebut, maka produktivitas panen dapat meningkat. Pasalnya, akan semakin banyak tanaman yang mendapatkan sinar matahari langsung.
Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais





.jpg)
