01 December 2025

Get In Touch

Kecanduan Video Pendek Sama Bahayanya dengan Alkohol, Ini Dampaknya ke Otak

Kecanduan Video Pendek Sama Bahayanya dengan Alkohol, Ini Dampaknya ke Otak

SURABAYA ( LENTERA ) - Penelitian yang dipimpin profesor psikologi Tianjin Normal University, Qiang Wang, menyoroti perubahan struktur otak pada pengguna yang menghabiskan waktu panjang menonton video singkat setiap hari. Konten cepat, padat, dan penuh rangsangan visual membuat otak terbiasa mengejar kepuasan instan, yakni sensasi “ganjaran cepat” yang dipicu lonjakan dopamin. Kondisi ini menggeser cara kerja otak, menjauh dari proses berpikir yang mendalam dan bertahap.

“Kecanduan video pendek merupakan ancaman kesehatan masyarakat global,” ujar Wang. Ia mencatat, pengguna di China menghabiskan rata-rata 151 menit per hari menonton video pendek, dengan 95,5 persen pengguna internet terlibat di dalamnya. Konsumsi intensif ini tidak hanya mengganggu perhatian dan tidur, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi.

Rentang Perhatian Melemah, Memori Menurun

Sejumlah riset menunjukkan bahwa paparan video pendek dalam durasi lama dapat menurunkan rentang perhatian, melemahkan kemampuan kognitif, hingga mengganggu memori jangka pendek. Fenomena ini disebut terjadi karena otak dipaksa memproses informasi padat dalam waktu singkat secara terus-menerus.

Dr Praveen Gupta dari Marengo Asia Hospital menjelaskan, format video yang padat memberikan sensasi dopamin tinggi tanpa usaha besar. Otak mendapat stimulasi besar dalam waktu cepat, mirip dengan reaksi tubuh saat terpapar zat adiktif seperti nikotin atau alkohol.

“Seiring waktu, otak menjadi kurang menikmati rangsangan alami yang lebih lambat dan menuntut fokus mendalam. Ini bisa meningkatkan perilaku impulsif,” jelas Gupta.
Kondisi ini membuat pengguna terbiasa berpindah dari satu video ke video lain, mengejar sensasi baru setiap detik. Akibatnya, keterampilan untuk bertahan pada satu aktivitas dalam waktu panjang, seperti membaca buku, mengerjakan proyek kantor, hingga sekadar duduk tenang tanpa distraksi, mulai hilang.

Gangguan pada Korteks Prefrontal

Masalah lain muncul pada bagian otak yang disebut korteks prefrontal, yaitu pusat pengambilan keputusan, regulasi emosi, penilaian, dan pengelolaan informasi. Aktivitas menonton video disertai scrolling konstan menyebabkan otak bekerja dalam mode “pergantian konteks” berulang kali. Otak dipaksa untuk terus memulai fokus baru dari nol.

Studi MRI menunjukkan bahwa penggunaan layar berlebihan pada remaja berkorelasi dengan penipisan korteks prefrontal. Kondisi ini mengkhawatirkan karena bagian otak tersebut baru selesai berkembang pada usia pertengahan 20-an. Artinya, paparan video pendek di usia muda dapat mempengaruhi arsitektur otak yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Semakin sering kebiasaan ini berlangsung, semakin besar risiko yang ditanggung otak dalam jangka panjang.

Mengganggu Kontrol Perilaku

Yang mengejutkan, dampak pada otak akibat kecanduan video pendek disebut memiliki kemiripan mekanisme dengan gangguan akibat konsumsi alkohol. Neurosaintis yang terlibat dalam penelitian menemukan bahwa keduanya sama-sama melemahkan kemampuan otak 
menjaga konsentrasi, konsistensi berpikir, hingga kontrol perilaku.

“Transmisi sinaptik yang terganggu pada jalur neurotransmiter inilah yang juga ditemukan pada kecanduan alkohol dan nikotin,” tulis salah satu studi tersebut.

Gangguan sinaptik ini membuat otak semakin sulit mengatur alur pikir dan keputusan. Seseorang dapat merasakan aktivitas harian, seperti bekerja, belajar, atau menyimak percakapan, lebih cepat melelahkan daripada seharusnya.

Meski video pendek terbukti memberi manfaat, mulai dari edukasi cepat, hiburan, hingga peluang ekonomi kreatif, para ahli menegaskan bahwa konsumsi tanpa kendali bisa menjadi ancaman jangka panjang.

Bagi remaja dan anak muda, risikonya lebih tinggi karena otak mereka masih berkembang. Bagi orang dewasa, risiko terutama berada pada melemahnya fokus, produktivitas, dan kemampuan berpikir mendalam.

Para pakar menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menekan dampaknya, seperti:
Mengatur durasi penggunaan harian
Menyalakan timer saat mulai menonton
Melepas gawai saat belajar atau bekerja
Mengisi hari dengan aktivitas tanpa layar – membaca buku, olahraga, atau bersosialisasi langsung.(ist,tin/dya)
 

Share:
Lenterajogja.com.
Lenterajogja.com.